Pangeran Laurent dari Belgia mengakui dirinya sempat bertemu dengan Jeffrey Epstein setelah namanya tercantum dalam dokumen yang dirilis otoritas Amerika Serikat pada pekan lalu. Pengakuan ini disampaikan untuk meluruskan berbagai spekulasi yang berkembang setelah dokumen tersebut menjadi perhatian publik internasional.
Menurut pernyataan Pangeran Laurent, pertemuan dengan Epstein terjadi pada awal 1990-an hingga awal 2000-an. Ia menegaskan bahwa pertemuan itu berlangsung atas permintaan Epstein dan tidak berkaitan dengan acara publik maupun kegiatan kelompok.
Adik Raja Philippe tersebut juga membantah bahwa dirinya pernah menghadiri acara bersama Epstein dan lingkaran pergaulannya. Klarifikasi ini sekaligus meluruskan informasi yang sebelumnya beredar terkait hubungan keduanya.
“Tidak pernah, secara langsung maupun tidak langsung, menghadiri acara apa pun bersama Epstein dan rombongannya,” kata Pangeran Laurent dalam pernyataan resminya.
Pangeran Laurent menjelaskan bahwa Epstein sempat menghubunginya ketika ia menjalani masa magang di Perserikatan Bangsa-Bangsa serta bekerja di sektor perbankan di New York. Dalam komunikasi tersebut, Epstein disebut meminta agar diperkenalkan kepada anggota keluarga kerajaan Belgia.
Namun, menurut Pangeran Laurent, permintaan tersebut langsung ia tolak. Meski demikian, sekitar satu dekade kemudian Epstein kembali menghubunginya dan mengundang makan malam di Paris bersama sejumlah tokoh kaya dan berpengaruh. Laurent menyatakan bahwa pertemuan itu bersifat terbatas dan tidak berlanjut menjadi hubungan apa pun.
Dokumen Epstein Seret Nama Tokoh Elit Dunia
Nama Pangeran Laurent mencuat setelah tercantum dalam dokumen baru terkait kasus Epstein yang dirilis oleh Kementerian Kehakiman Amerika Serikat. Dokumen tersebut memuat sejumlah nama tokoh elit dunia yang pernah berhubungan atau berkomunikasi dengan Epstein.
Selain Pangeran Belgia, beberapa nama lain yang tercantum antara lain Putri Mahkota Norwegia Mette-Marit, mantan Pangeran Inggris Andrew, pengusaha Amerika Serikat Elon Musk, hingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Dalam dokumen itu, nama Trump dan Mette-Marit bahkan disebut ribuan kali.
Salah satu dokumen internal juga memuat korespondensi yang menyebut pertanyaan Mette-Marit kepada Epstein terkait saran visual yang dinilai tidak pantas bagi anaknya yang masih berusia remaja.
Jeffrey Epstein dikenal sebagai pelaku kejahatan seksual dan perdagangan manusia. Ia sempat menjalani hukuman penjara sebelum akhirnya ditemukan meninggal dunia pada 2019. Kasus Epstein hingga kini masih memicu sorotan global karena melibatkan jaringan pergaulan kelas atas lintas negara.
Referensi:
CNNIndonesia