Batas Aman Makan Telur dalam Seminggu agar Kolesterol Tetap Terkontrol
Telur menjadi salah satu bahan makanan favorit banyak orang karena praktis diolah dan kaya nutrisi. Selain mengandung protein berkualitas tinggi,...
Read more
Kasus henti jantung atau sudden cardiac death saat berolahraga terus menjadi perhatian publik karena dapat terjadi tanpa gejala awal. Menurut Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang, dr Budi Ario Tejo, SpJP-FIHA, penyebab paling sering kondisi ini adalah gangguan irama jantung atau aritmia. Ia menegaskan bahwa henti jantung mendadak dapat terjadi bahkan pada seseorang yang terlihat sehat dan aktif berolahraga.
“Henti jantung mendadak atau sudden cardiac death sebagian besar terjadi akibat gangguan irama jantung. Ini bisa terjadi pada orang yang kelihatannya sehat,” kata dr Budi, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Siloam Hospitals TB Simatupang.
Berdasarkan penjelasan dr Budi, aritmia dapat menyerang berbagai rentang usia, termasuk remaja dan usia produktif. “Ada pasien usia 18 tahun, ada yang usia produktif, gangguan irama jantung ini tidak mengenal dengan usia,” ujarnya. Kondisi tersebut membuat banyak kasus sulit diprediksi karena penderitanya sering tidak menyadari adanya kelainan pada jantung.
Selain aritmia, risiko henti jantung meningkat apabila seseorang memiliki kelainan jantung bawaan. Faktor gaya hidup seperti kurang aktivitas, stres berkepanjangan, konsumsi rokok atau vape, hingga pola tidur yang buruk juga dapat memicu gangguan irama jantung. Menurut dr Budi, kombinasi faktor tersebut berpotensi membuat jantung bekerja tidak stabil, terutama saat tubuh mendapatkan tekanan tambahan dari aktivitas fisik berat.
Upaya pencegahan menjadi langkah utama yang ditekankan oleh dr Budi, mengingat gejala aritmia tidak selalu muncul secara jelas. Pemeriksaan medis berkala menjadi cara paling efektif untuk mengetahui kondisi jantung seseorang. Namun, perkembangan teknologi membuat proses pemantauan semakin mudah.
Menurut dr Budi, perangkat seperti smartwatch, smartband, atau smartring kini dapat membantu memantau irama jantung harian. “Smartwatch boleh banget, itu bisa memantau irama jantung kita normal atau tidak,” katanya. Meski bukan alat diagnostik utama, perangkat ini dapat memberikan sinyal awal jika terjadi detak jantung tidak beraturan.
Pemantauan mandiri menggunakan perangkat wearable menjadi tren yang semakin populer. Banyak penelitian menunjukkan bahwa deteksi denyut jantung tidak normal melalui alat tersebut kerap membantu pengguna segera mencari pertolongan medis sebelum terjadi kondisi yang lebih serius. Informasi sederhana seperti denyut jantung terlalu cepat, terlalu lambat, atau pola ritme yang tidak stabil bisa menjadi indikator awal gangguan.
Namun, dr Budi menegaskan bahwa perangkat wearable bukan pengganti pemeriksaan medis menyeluruh. Pengguna tetap perlu melakukan pemeriksaan lanjutan seperti elektrokardiogram (EKG) atau tes stres jantung agar diagnosis lebih akurat.
Menurut dr Budi, menjaga kesehatan jantung bukan hanya dilakukan oleh orang dengan riwayat penyakit jantung. Generasi muda yang merasa sehat juga perlu menerapkan kebiasaan yang mendukung stabilitas irama jantung. Ia menekankan pentingnya aktivitas fisik teratur, pengelolaan stres, istirahat cukup, serta menjauhi rokok dan vape.
“Penting bagi generasi muda, yaitu jangan mager, rutin olahraga, kelola stress, hindari rokok atau vape, istirahat cukup,” kata dr Budi menegaskan.
Beberapa kebiasaan yang direkomendasikan untuk menjaga irama jantung tetap stabil antara lain:
Melakukan olahraga ringan hingga sedang secara konsisten, bukan hanya saat ada waktu luang.
Mengatur durasi tidur yang cukup, idealnya 7 hingga 8 jam per hari.
Mengurangi konsumsi kafein berlebihan, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat palpitasi.
Mengelola stres melalui meditasi, pernapasan dalam, atau aktivitas yang menenangkan.
Melakukan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama jika sering merasakan dada berdebar, mudah lelah, atau pusing mendadak.
Bagi individu yang memiliki riwayat penyakit jantung ataupun kelainan bawaan, konsultasi dengan dokter sebelum memulai latihan intensitas tinggi menjadi langkah wajib. Ahli kesehatan menilai bahwa beberapa kasus henti jantung saat olahraga terjadi karena individu memaksakan diri tanpa mengetahui kondisi jantung sebenarnya.
Perubahan pola hidup secara bertahap dinilai mampu memberikan perbaikan signifikan terhadap stabilitas irama jantung. Mengurangi stres, meningkatkan aktivitas fisik, dan berhenti merokok terbukti menurunkan risiko terjadinya aritmia. Studi kesehatan global menunjukkan bahwa gaya hidup tidak aktif atau sedentary lifestyle menjadi salah satu faktor terbesar penyumbang gangguan irama jantung pada usia muda.
Kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung perlu terus ditingkatkan, mengingat aktivitas fisik yang seharusnya menyehatkan dapat menjadi pemicu kondisi darurat apabila tubuh tidak berada dalam kondisi optimal. Dr Budi menegaskan bahwa pendekatan pencegahan mulai dari gaya hidup sehat hingga pemeriksaan rutin merupakan kunci dalam menekan angka kejadian henti jantung mendadak.
Referensi:
DetikHealth
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah hasil survei terbaru menunjukkan kebijakan tersebut merupakan program pemerintah yang paling...
Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 mengenai Pengembangan dan Penguatan Sektor...