Jangan Abaikan Kulit Gatal dan Kering, Bisa Jadi Gejala Awal Penyakit Ginjal
Banyak orang menganggap kulit gatal atau kulit yang terasa sangat kering hanya sebagai masalah kulit biasa. Padahal, dalam kondisi tertentu,...
Read more
Keputusan pemerintah negara bagian Benggala Barat, India, untuk menghapus telur dari program makan siang gratis di sekolah negeri memicu perdebatan di berbagai kalangan. Kebijakan tersebut menjadi perhatian karena dinilai tidak hanya berkaitan dengan pola makan, tetapi juga menyangkut pemenuhan gizi anak serta kebijakan publik.
Perubahan menu dilakukan setelah penyedia makanan dalam program tersebut beralih kepada International Society for Krishna Consciousness (ISKCON), organisasi yang menerapkan menu vegetarian dalam seluruh layanan makanannya.
Menurut perwakilan senior ISKCON, Surovijoy Govinda Das, kebutuhan nutrisi siswa tetap dapat dipenuhi melalui berbagai sumber protein nabati seperti kedelai, paneer, dan aneka kacang-kacangan. Ia menyatakan bahwa menu yang disiapkan tetap dirancang agar memenuhi kebutuhan protein dan vitamin anak sekolah.
Pemerintah Benggala Barat juga menilai pola makan vegetarian dapat mendukung kesehatan apabila disusun dengan komposisi nutrisi yang seimbang. Menurut Menteri Pendidikan Benggala Barat, Dipak Barman, banyak masyarakat di India yang menjalani pola makan tanpa daging maupun telur dan tetap memiliki kondisi kesehatan yang baik.
Di sisi lain, kebijakan tersebut mendapat kritik dari sejumlah tenaga kesehatan dan pendidik. Mereka menilai telur merupakan salah satu sumber protein hewani yang murah, mudah diperoleh, dan memiliki kualitas gizi yang tinggi, terutama bagi anak-anak dari keluarga berpenghasilan rendah.
Menurut dokter kesehatan masyarakat Sylvia Karpagam, penyusunan menu makan sekolah sebaiknya mengacu pada bukti ilmiah mengenai kebutuhan gizi anak. Ia menilai keputusan terkait pangan sekolah seharusnya lebih mengutamakan aspek kesehatan dibanding pertimbangan lainnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh sejumlah guru. Mereka menilai program makan siang gratis selama ini menjadi salah satu faktor yang mendorong kehadiran siswa di sekolah. Menu yang menyediakan telur dinilai lebih diminati sehingga mampu meningkatkan partisipasi belajar.
Berdasarkan data dari International Food Policy Research Institute (IFPRI), program makan siang sekolah di India selama bertahun-tahun memberikan kontribusi terhadap peningkatan kehadiran siswa sekaligus membantu menekan angka stunting pada anak.
Kontroversi ini kini berlanjut ke jalur hukum. Pengadilan Tinggi Benggala Barat meminta pemerintah memberikan penjelasan mengenai proses penunjukan penyedia makanan dalam program tersebut. Sidang lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat.
Perdebatan mengenai penghapusan telur pun menjadi gambaran bahwa kebijakan pangan di sekolah tidak hanya berkaitan dengan penyediaan makanan, tetapi juga menyentuh isu kesehatan masyarakat, pendidikan, serta kebijakan sosial yang lebih luas.
Referensi:
DetikHealth</a
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Pancake menjadi salah satu menu sarapan favorit karena memiliki tekstur lembut, rasa manis yang pas, serta mudah dipadukan dengan berbagai...
Pindang patin merupakan salah satu kuliner khas Indonesia yang terkenal dengan cita rasa gurih, asam, dan segar dalam satu sajian....