Fakta Ilmiah Terungkap Ini Alasan Rumah Tua Sering Terasa Angker
Banyak orang pernah merasakan suasana tidak nyaman saat berada di rumah tua. Ruangan terasa mencekam, hawa seolah berat, dan muncul...
Read more
Mata uang kripto tidak hanya dimanfaatkan sebagai instrumen investasi maupun pembayaran digital. Dalam beberapa tahun terakhir, aset digital tersebut juga menjadi salah satu alat transaksi utama yang digunakan jaringan perdagangan narkoba internasional.
Menurut laporan EU Serious and Organised Crime Threat Assessment (EU-SOCTA) 2025, transaksi narkoba modern kini banyak berpindah ke ekosistem digital melalui blockchain. Sistem ini memungkinkan pelaku mengirim dana lintas negara tanpa melibatkan lembaga perbankan sehingga proses transaksi berlangsung lebih cepat dan relatif sulit dilacak.
Pelaku hanya membutuhkan alamat dompet digital dan koneksi internet untuk mengirim hasil penjualan narkotika dari satu negara ke negara lain dalam hitungan menit. Tidak adanya perantara perbankan menjadi salah satu alasan utama kripto diminati oleh jaringan kriminal.
Berdasarkan data dari EU-SOCTA 2025, pasar gelap di darknet menghasilkan pendapatan sekitar US$5 juta hingga US$7,5 juta per hari. Hampir seluruh transaksi tersebut menggunakan mata uang kripto sebagai alat pembayaran utama.
Sepanjang 2024, nilai transaksi narkoba berbasis kripto di pasar darknet mencapai lebih dari US$1,7 miliar dan meningkat lebih dari 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, menurut Chainalysis, sepanjang 2025 aliran dana kripto menuju vendor narkoba dan darknet markets telah melampaui US$2,5 miliar.
Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 30.000 situs aktif di dark web, dengan lebih dari separuhnya berkaitan dengan aktivitas kriminal. Platform tersebut beroperasi layaknya toko online lengkap dengan foto produk, deskripsi, hingga sistem penilaian penjual.
Perbedaannya, seluruh aktivitas dilakukan menggunakan teknologi enkripsi serta pembayaran kripto demi menjaga anonimitas pembeli maupun penjual.
Tidak hanya digunakan pada transaksi ritel, kripto juga menjadi alat pembayaran bagi produsen bahan baku narkoba sintetis.
Menurut laporan TRM Labs berjudul Beyond Fentanyl, sebanyak 97 persen dari 120 produsen prekursor narkoba asal China menawarkan pembayaran menggunakan aset kripto. Nilai dana yang diterima produsen tersebut meningkat lebih dari 600 persen dari 2022 ke 2023 dengan total melebihi US$26 juta.
Bitcoin masih menjadi pilihan utama dengan sekitar 60 persen volume transaksi, disusul jaringan TRON sekitar 30 persen, kemudian Ethereum sekitar 6 persen.
TRM Labs juga menemukan sedikitnya 20 produsen prekursor memiliki hubungan langsung dengan vendor narkoba daring maupun pasar darknet di Rusia dan negara-negara Barat.
Meski beberapa perusahaan telah masuk daftar sanksi internasional, sebagian di antaranya masih tetap memasarkan bahan baku narkoba sintetis, termasuk nitazene yang memiliki kekuatan jauh lebih tinggi dibanding fentanil.
Di sisi lain, Elliptic menilai blockchain justru menyimpan kelemahan bagi pelaku kejahatan karena seluruh transaksi tercatat permanen dan dapat ditelusuri.
Menurut Elliptic, penyidik kini lebih banyak mengikuti aliran uang dibanding mengejar barang bukti narkoba secara langsung. Transparansi blockchain memungkinkan aparat melacak riwayat transaksi tanpa harus mengumpulkan data dari berbagai lembaga keuangan lintas negara.
“Kemampuan melacak kripto sangat esensial dalam hampir setiap penyelidikan, terlebih dalam kasus perdagangan narkoba. Ketika kami mengambil uang seorang kriminal, itulah saat kami benar-benar memberikan pukulan telak kepada mereka,” kata Mike Prado, Wakil Asisten Direktur Homeland Security Investigations (HSI) Amerika Serikat, dikutip dari TRM Labs.
Salah satu contoh keberhasilan metode tersebut adalah kasus Banmeet Singh. Pada Januari 2024, Singh mengaku bersalah menjalankan jaringan perdagangan narkoba di darknet dengan nilai aset digital sekitar US$150 juta.
Melalui analisis blockchain, aparat dari DEA, IRS Criminal Investigation, dan Homeland Security Investigations berhasil menelusuri seluruh aliran dana hingga akhirnya membongkar jaringan tersebut.
Meski demikian, menurut Chainalysis, kelompok kriminal terus mengembangkan berbagai cara baru untuk menyembunyikan transaksi, seperti memanfaatkan koin privasi Monero, layanan pencampur transaksi atau mixing service, hingga platform keuangan terdesentralisasi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa perang melawan perdagangan narkoba digital masih akan terus berlangsung. Selama permintaan terhadap narkotika sintetis tetap tinggi, jaringan kriminal diperkirakan akan terus mencari celah teknologi baru untuk menghindari pengawasan aparat.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Menyapa Warisan Dunia di Jantung Jawa Di tengah hamparan hijau Kabupaten Magelang, berdiri sebuah mahakarya yang telah bertahan lebih dari...
Timnas Jepang datang dengan kepercayaan diri tinggi menjelang duel melawan Brasil pada babak 32 besar Piala Dunia 2026. Pelatih Hajime...