Neymar Cedera Jelang Piala Dunia 2026, Brasil Dibayangi Kekhawatiran
Kabar kurang menggembirakan datang dari bintang timnas Brasil, Neymar, yang mengalami cedera betis setelah namanya masuk dalam skuad Brasil untuk...
Read more
Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dan nilai tukar rupiah sama-sama mengalami tekanan pada perdagangan Jumat (22/5) pagi. Pelemahan terjadi sejak awal sesi perdagangan dan memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi pasar keuangan domestik.
Berdasarkan data dari RTI Business hingga pukul 09.17 WIB, IHSG turun 20,30 poin atau 0,33 persen ke level 6.074. Pada awal perdagangan, indeks bahkan sempat menyentuh level terendah harian di angka 5.966 sebelum kembali bergerak naik terbatas.
Sementara itu, IHSG dibuka di posisi 6.065 dan sempat mencapai level tertinggi harian di 6.079. Di tengah tekanan tersebut, tercatat sebanyak 221 saham menguat, 362 saham melemah, dan 145 saham stagnan.
Tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga mengalami pelemahan pada perdagangan pagi ini.
Mata uang Garuda tercatat turun 32 poin atau sekitar 0,18 persen menjadi Rp17.700 per dolar AS. Jika dikonversikan, nilai tersebut setara sekitar Rp17,7 ribu untuk setiap 1 dolar AS.
Menurut Lukman Leong selaku analis mata uang dari Doo Financial Futures, pergerakan rupiah saat ini masih dipengaruhi sikap wait and see investor terhadap sejumlah sentimen ekonomi dan geopolitik global.
“Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia. Investor juga masih mengantisipasi respons Iran terhadap proposal terbaru Amerika Serikat,” kata Lukman.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini berada pada kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS.
Tekanan terhadap pasar keuangan Indonesia dinilai masih dipengaruhi kombinasi sentimen domestik dan global. Investor cenderung berhati-hati menunggu data ekonomi terbaru Indonesia, terutama terkait neraca transaksi berjalan kuartal pertama tahun ini.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik global juga turut memicu kekhawatiran pasar. Respons Iran terhadap proposal terbaru dari Amerika Serikat dinilai dapat memengaruhi pergerakan aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang seperti Indonesia.
Kondisi ini membuat investor lebih memilih aset aman atau safe haven seperti dolar AS. Dampaknya, nilai tukar rupiah ikut tertekan dan aliran dana asing di pasar saham menjadi lebih terbatas.
Analis menilai volatilitas pasar masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek, terutama jika sentimen global belum menunjukkan perbaikan signifikan.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Berita Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia berita — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Bangun pagi dengan perut lapar kadang bikin bingung mau masak apa. Apalagi kalau stok bahan di dapur terbatas dan waktu...
Semangkuk bakso hangat memang punya tempat spesial di hati banyak orang Indonesia. Apalagi saat cuaca dingin, hujan turun sejak sore,...