Fitur Skills Gemini Chrome Resmi Hadir, Simpan Prompt Jadi Lebih Praktis
Google kembali menghadirkan inovasi terbaru pada layanan kecerdasan buatan mereka dengan meluncurkan fitur Skills di Gemini yang terintegrasi langsung di...
Read more
Tombol “Next”, “Skip”, atau “Lanjutkan” sering dianggap sebagai fitur sederhana dalam aplikasi digital. Namun di balik kemudahan itu, terdapat strategi desain yang mampu mempengaruhi perilaku pengguna tanpa disadari. Fenomena ini dikenal sebagai nudge technique, sebuah pendekatan yang kini banyak digunakan dalam berbagai platform digital.
Menurut Dr Mira Kania Sabariah, dosen Program Studi S1 Rekayasa Perangkat Lunak Fakultas Informatika Telkom University, teknik ini bekerja dengan memanfaatkan cara berpikir manusia yang cenderung cepat dan praktis.
“Nudge Technique adalah teknik desain perilaku yang mendorong orang membuat pilihan lebih menguntungkan tanpa membatasi kebebasan, dengan memanfaatkan bias kognitif dan penyajian informasi yang sederhana,” kata Mira.
Dalam praktiknya, teknik ini bisa memberikan manfaat seperti meningkatkan keamanan dan efisiensi. Namun, tanpa transparansi yang jelas, nudge juga berpotensi mempengaruhi keputusan pengguna secara tidak sadar.
Tombol “Next” tidak sekadar alat navigasi. Desainnya dibuat untuk memberikan kesan bahwa melanjutkan adalah pilihan paling tepat. Hal ini diperkuat dengan tampilan sederhana yang mengurangi beban berpikir pengguna.
Menurut Mira, beban kognitif yang rendah membuat pengguna cenderung langsung mengklik tanpa mempertimbangkan alternatif lain. Selain itu, elemen visual seperti warna kontras dan indikator progres semakin mendorong pengguna untuk terus melanjutkan.
Fenomena ini semakin terlihat pada media sosial. Platform digital menggunakan berbagai teknik untuk mempertahankan perhatian pengguna, seperti:
Fitur seperti infinite scroll dan autoplay menjadi contoh nyata. Tanpa disadari, pengguna dapat terus menggulir layar atau menonton video dalam waktu lama.
Menurut Mira, kondisi ini dapat menimbulkan beberapa dampak, seperti:
Untuk mengurangi dampak tersebut, para peneliti menyarankan adanya fitur seperti tombol pause, opsi mematikan autoplay, dan mode fokus.
Dampak nudge technique menjadi jauh lebih serius ketika menyasar anak-anak. Menurut Mira, anak belum memiliki kemampuan literasi digital dan kontrol diri yang matang.
“Desain manipulatif menimbulkan risiko yang jauh lebih tinggi bagi anak-anak dibandingkan orang dewasa,” jelasnya.
Beberapa bentuk desain yang berpotensi berbahaya bagi anak antara lain:
Dalam kondisi ini, anak rentan mengalami eksploitasi finansial hingga gangguan psikologis.
Selain itu, fitur seperti infinite scroll dan autoplay menghilangkan stopping cues atau titik berhenti alami. Padahal, titik ini penting bagi otak untuk mengevaluasi aktivitas.
Menurut Mira, hal ini berkaitan dengan perkembangan otak anak, khususnya bagian prefrontal cortex yang belum matang. Akibatnya, anak lebih mudah terjebak dalam siklus dopamin yang mendorong konsumsi konten tanpa henti.
Laporan dari 5Rights Foundation juga menunjukkan bahwa desain seperti ini dapat menyebabkan:
Tidak hanya itu, algoritma rekomendasi juga dapat menciptakan fenomena rabbit hole, di mana pengguna terus diarahkan ke konten yang semakin sempit atau ekstrem.
Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi mengubah anak dari pengguna aktif menjadi konsumen pasif, yang berdampak pada kemampuan berpikir kritis.
Dalam konteks perlindungan anak, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Komunikasi dan Digital tengah membahas regulasi khusus terkait hal ini. Salah satunya adalah RPP Pelindungan Anak dalam Penyelenggaraan Sistem Elektronik.
Menurut Mira, regulasi ini akan efektif jika mengatur langsung desain platform, termasuk membatasi fitur adiktif seperti autoplay dan infinite scroll untuk akun anak.
Selain itu, aturan dalam UU Perlindungan Data Pribadi juga menekankan pentingnya persetujuan orang tua dalam pemrosesan data anak. Hal ini mendorong platform untuk memperketat sistem verifikasi usia.
Jika platform tidak memenuhi standar keamanan, pemerintah memiliki wewenang untuk memberikan sanksi administratif hingga pemutusan akses.
Mira juga menyoroti pentingnya regulasi khusus terkait dark patterns, yaitu desain yang secara sengaja memanipulasi pengguna. Tanpa aturan yang jelas, praktik seperti ini akan terus menjadi area abu-abu dalam ekosistem digital.
Nudge technique pada dasarnya tidak selalu buruk. Dalam beberapa kasus, teknik ini justru membantu pengguna, misalnya melalui pengingat istirahat atau pengaturan privasi yang lebih aman.
Namun, ketika desain mulai menyembunyikan pilihan, memanipulasi informasi, atau mengarahkan pengguna demi keuntungan platform, maka risiko bagi konsumen menjadi semakin besar.
Referensi:
Detik
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Tim SAR gabungan akhirnya berhasil menemukan puing helikopter PK-CFX milik PT Matthew Air setelah melakukan pencarian intensif di wilayah Kabupaten...
Sebuah rekaman video memperlihatkan dua sejoli diduga bermesraan di dalam kedai Es Teh Indonesia cabang Kibin, dan menjadi perbincangan di...