TikTok Pilih Tidak Gunakan Enkripsi End to End di DM Ini Alasan Keamanannya

TikTok memastikan tidak akan menerapkan enkripsi end to end pada DM seperti WhatsApp. Platform ini memilih sistem keamanan berbeda demi melindungi pengguna. (Foto: Unsplash)

TikTok memastikan tidak akan menerapkan enkripsi end to end pada DM seperti WhatsApp

Platform video pendek TikTok mengambil langkah berbeda dibanding banyak aplikasi komunikasi digital lainnya. Saat berbagai layanan berlomba menghadirkan enkripsi end to end (E2EE) untuk melindungi percakapan pengguna, TikTok justru memutuskan tidak menerapkan teknologi tersebut pada fitur direct message (DM).

Menurut penjelasan perusahaan, keputusan itu diambil untuk menjaga keamanan pengguna, terutama kelompok pengguna yang lebih muda.

Berdasarkan laporan dari BBC, TikTok menyebut bahwa penerapan enkripsi end to end dapat membuat platform tidak dapat mengakses isi pesan sama sekali, bahkan ketika terjadi laporan pelanggaran seperti penipuan, perundungan, atau eksploitasi anak.

Teknologi end to end encryption sendiri dikenal sebagai sistem keamanan yang membuat pesan hanya dapat dibaca oleh pengirim dan penerima. Bahkan penyedia layanan tidak dapat melihat isi percakapan tersebut.

Sistem ini sudah menjadi standar di banyak aplikasi komunikasi populer seperti WhatsApp, Signal, iMessage milik Apple, Google Messages, serta beberapa layanan pesan lain.

Namun TikTok memilih pendekatan berbeda.

Menurut perusahaan, jika enkripsi penuh diterapkan, maka tim keamanan platform maupun aparat penegak hukum tidak akan dapat memeriksa isi pesan meskipun ada laporan pelanggaran.

TikTok menyatakan sistem DM mereka dirancang untuk menyeimbangkan antara privasi pengguna dan kemampuan menangani risiko keamanan yang mungkin muncul di platform.

TikTok Klaim Pesan Tetap Aman Meski Tanpa Enkripsi End to End

TikTok menegaskan bahwa fitur DM di platform mereka tetap dilindungi dengan teknologi keamanan, meskipun tidak menggunakan enkripsi end to end.

Perusahaan menjelaskan bahwa pesan pengguna tetap diamankan menggunakan enkripsi standar saat proses pengiriman (in transit) serta enkripsi saat data disimpan di server (at rest).

Dengan sistem tersebut, TikTok masih dapat menjaga keamanan data sekaligus memiliki kemampuan melakukan investigasi jika diperlukan.

Platform yang memiliki hampir dua miliar pengguna aktif bulanan ini juga menegaskan bahwa akses terhadap isi pesan pengguna sangat dibatasi.

Menurut TikTok, hanya personel tertentu yang memiliki otorisasi dan pelatihan khusus yang dapat mengakses data tersebut. Akses juga hanya dapat dilakukan dalam kondisi tertentu, seperti penyelidikan keamanan, laporan dari pengguna, atau permintaan hukum yang sah.

Analis industri media sosial Matt Navarra menilai langkah TikTok ini cukup berani di tengah tren global yang justru mendorong penggunaan enkripsi penuh.

Menurut Navarra, TikTok dapat berargumen bahwa pendekatan tersebut menempatkan keamanan proaktif sebagai prioritas, terutama karena risiko pelecehan atau praktik grooming sering terjadi melalui pesan pribadi di platform digital.

Namun tidak semua pihak sepakat dengan pendekatan ini.

Sejumlah pakar keamanan siber menilai bahwa penolakan terhadap enkripsi end to end dapat membuat TikTok terlihat tidak sejalan dengan standar privasi global yang semakin menekankan perlindungan komunikasi pengguna dari pihak ketiga.

Di sisi lain, beberapa organisasi perlindungan anak justru menyambut baik keputusan tersebut. Mereka menilai enkripsi penuh dapat menyulitkan platform maupun aparat dalam mendeteksi eksploitasi anak atau penyebaran konten ilegal.

Selain isu keamanan pesan, TikTok juga selama ini kerap menjadi sorotan terkait perlindungan data pengguna serta hubungannya dengan perusahaan induknya, ByteDance yang berbasis di China.

Meski demikian, situasi bisnis TikTok di Amerika Serikat disebut telah berubah setelah operasionalnya di negara tersebut diambil alih oleh perusahaan patungan TikTok USDS Joint Venture LLC.

Entitas tersebut dibentuk untuk mematuhi perintah eksekutif yang ditandatangani Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada September 2025.

TikTok menyatakan bahwa operasional platform di Amerika akan berjalan di bawah sistem pengamanan yang mencakup perlindungan data pengguna, keamanan algoritma, moderasi konten, serta jaminan keamanan perangkat lunak.

Perusahaan patungan yang mayoritas dimiliki pihak Amerika Serikat itu juga menegaskan komitmennya untuk memperkuat kebijakan moderasi konten serta meningkatkan transparansi dalam pengelolaan platform.

Referensi:
Kompas

📚 ️Baca Juga Seputar Internet

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED