Risiko Serangan Jantung Saat Olahraga dan Cara Mencegahnya

Serangan jantung bisa terjadi saat olahraga jika tubuh dipaksakan. Kenali cara aman berolahraga agar jantung tetap terlindungi. (Foto: emc.id)
Serangan jantung bisa terjadi saat olahraga jika tubuh dipaksakan. Kenali cara aman berolahraga agar jantung tetap terlindungi. (Foto: emc.id)

Serangan jantung bisa terjadi saat olahraga jika tubuh dipaksakan

Olahraga selama ini dikenal sebagai salah satu cara paling efektif untuk menjaga kebugaran tubuh dan kesehatan jantung. Aktivitas fisik rutin membantu meningkatkan stamina, memperbaiki sirkulasi darah, serta menurunkan risiko berbagai penyakit kronis. Namun di balik manfaat tersebut, olahraga juga menyimpan risiko jika dilakukan tanpa persiapan dan kontrol yang tepat.

Dalam beberapa kasus, orang yang tengah berolahraga tiba-tiba pingsan, mengalami gangguan irama jantung, bahkan meninggal dunia. Kondisi ini tidak hanya menimpa atlet profesional, tetapi juga masyarakat umum, termasuk mereka yang baru mulai berolahraga setelah lama tidak aktif.

Salah satu penyebab paling sering dikaitkan dengan kejadian tersebut adalah serangan jantung yang muncul saat aktivitas fisik berlangsung. Yang membuat kondisi ini berbahaya, serangan jantung kerap datang tanpa gejala awal yang jelas. Akibatnya, banyak orang tidak menyadari bahwa jantungnya berada dalam kondisi berisiko.

Menurut penjelasan dokter spesialis jantung yang dikutip dari berbagai sumber medis, olahraga yang dilakukan secara tidak terukur dapat memicu lonjakan detak jantung dan tekanan darah secara tiba-tiba. Pada individu dengan faktor risiko tertentu, kondisi ini dapat berujung pada gangguan aliran darah ke jantung.

Karena itu, memahami cara aman berolahraga menjadi langkah penting agar aktivitas fisik benar-benar memberikan manfaat, bukan justru menimbulkan masalah kesehatan.

Mengapa Serangan Jantung Bisa Terjadi Saat Olahraga

Serangan jantung terjadi ketika aliran darah ke otot jantung terhambat atau terhenti. Hambatan ini umumnya disebabkan oleh penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner. Saat berolahraga, jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Pada orang dengan kondisi jantung tertentu, lonjakan kebutuhan oksigen ini bisa menjadi pemicu. Terlebih jika olahraga dilakukan secara mendadak, dengan intensitas tinggi, atau tanpa pemanasan yang cukup.

Menurut dokter spesialis jantung, risiko ini meningkat pada individu yang memiliki faktor seperti tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, kebiasaan merokok, atau riwayat penyakit jantung dalam keluarga. Namun, orang tanpa riwayat medis pun tetap bisa berisiko jika memaksakan diri.

Faktor lain yang sering luput diperhatikan adalah dehidrasi dan kondisi cuaca. Kekurangan cairan membuat volume darah menurun sehingga jantung harus bekerja lebih keras. Sementara cuaca terlalu panas atau dingin dapat memicu respons stres tambahan pada sistem kardiovaskular.

Inilah alasan mengapa olahraga seharusnya tidak hanya berfokus pada durasi atau intensitas, tetapi juga pada kesiapan tubuh secara menyeluruh.

Cara Aman Mencegah Serangan Jantung Saat Berolahraga

Untuk mengurangi risiko serangan jantung saat berolahraga, dokter spesialis jantung menyarankan sejumlah langkah pencegahan yang dapat diterapkan oleh siapa saja, baik pemula maupun yang sudah rutin beraktivitas fisik.

Langkah pertama adalah memantau detak jantung secara berkala. Memahami batas aman detak jantung membantu mencegah tubuh bekerja terlalu keras. Secara umum, detak jantung saat olahraga dianjurkan berada di kisaran 50 hingga 85 persen dari detak jantung maksimal.

Detak jantung maksimal dapat dihitung dengan rumus sederhana, yaitu 220 dikurangi usia. Dengan memantau angka ini, seseorang bisa mengetahui kapan harus menurunkan intensitas atau berhenti sejenak. Penggunaan alat pemantau detak jantung atau smartwatch dapat membantu proses ini.

Langkah berikutnya adalah memperhatikan asupan makanan sebelum berolahraga. Mengonsumsi makanan berat tepat sebelum aktivitas fisik dapat memberi beban tambahan pada jantung dan sistem pencernaan. Sebagai gantinya, pilih camilan ringan sekitar 30 hingga 60 menit sebelum olahraga.

Makanan seperti pisang, roti gandum, atau yogurt dalam porsi kecil dapat menjadi sumber energi yang cukup tanpa membuat tubuh terasa penuh. Asupan ini membantu menjaga kadar gula darah tetap stabil selama berolahraga.

Selain itu, penting untuk menyesuaikan jenis dan intensitas olahraga dengan kondisi tubuh. Banyak orang mengabaikan tahap ini dan langsung melakukan latihan berat, terutama setelah lama tidak berolahraga. Padahal, jantung membutuhkan waktu untuk beradaptasi.

Bagi pemula atau mereka yang baru kembali aktif, olahraga ringan hingga sedang sebaiknya menjadi pilihan awal. Intensitas dapat ditingkatkan secara bertahap seiring meningkatnya kebugaran tubuh. Pendekatan ini membantu jantung menyesuaikan diri tanpa tekanan berlebihan.

Peran Hidrasi, Cuaca, dan Istirahat bagi Kesehatan Jantung

Selain intensitas dan durasi, faktor pendukung seperti cairan tubuh, cuaca, dan waktu istirahat memiliki peran besar dalam menjaga keamanan olahraga.

Menjaga tubuh tetap terhidrasi merupakan salah satu kunci utama. Kekurangan cairan dapat menyebabkan peningkatan detak jantung dan tekanan darah, sehingga jantung bekerja lebih keras dari seharusnya. Minumlah air putih sebelum, selama, dan setelah berolahraga, tanpa menunggu rasa haus muncul.

Cuaca juga perlu menjadi pertimbangan. Berolahraga saat suhu terlalu panas membuat tubuh bekerja ekstra untuk mendinginkan diri. Sebaliknya, udara terlalu dingin dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah, yang berpotensi meningkatkan tekanan pada jantung.

Waktu terbaik untuk berolahraga umumnya adalah pagi atau sore hari, ketika suhu lebih bersahabat. Jika harus berolahraga dalam kondisi cuaca tertentu, gunakan pakaian yang sesuai dan kurangi intensitas latihan.

Tak kalah penting adalah memberi waktu istirahat yang cukup bagi tubuh. Istirahat bukan tanda kemalasan, melainkan bagian penting dari proses pemulihan jantung dan otot. Berolahraga tanpa jeda dapat memicu kelelahan kronis dan meningkatkan risiko gangguan jantung.

Dokter jantung menyarankan menyediakan satu hingga dua hari istirahat setiap minggu. Pada hari tersebut, aktivitas ringan seperti berjalan santai atau peregangan tetap dianjurkan untuk menjaga sirkulasi darah tanpa membebani jantung.

Dengan memahami dan menerapkan langkah-langkah ini, olahraga dapat tetap menjadi kebiasaan sehat yang aman. Aktivitas fisik yang dilakukan secara terukur, disesuaikan dengan kondisi tubuh, dan didukung pola hidup seimbang akan membantu menjaga jantung tetap kuat dan berfungsi optimal.

Referensi:
CNNIndonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Kesehatan

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED