Tembok Rumah Lembap dan Cat Mengelupas Begini Cara Mengatasinya
Masalah tembok lembap dan cat yang mengelupas merupakan keluhan umum di banyak rumah, terutama saat musim hujan. Selain mengganggu tampilan...
Read more
Tren kenaikan harga properti yang terjadi hampir setiap tahun membuat keputusan membeli rumah menjadi dilema besar bagi banyak pasangan suami istri. Kekhawatiran harga rumah yang semakin mahal di masa depan kerap memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out, sehingga pasutri terburu-buru mengambil keputusan tanpa perencanaan keuangan yang matang.
Menanggapi fenomena tersebut, Certified Financial Planner Yuni Astutik menegaskan bahwa waktu terbaik membeli rumah tidak ditentukan oleh kondisi pasar properti. Menurut dia, faktor terpenting justru terletak pada kesiapan finansial masing-masing individu maupun pasangan.
Menurut Yuni Astutik, banyak orang kerap mempertanyakan apakah membeli rumah sebaiknya dilakukan sebelum atau sesudah menikah. Namun, ia menilai tidak ada jawaban yang bisa disamaratakan, karena kondisi keuangan setiap pasangan sangat berbeda.
Meski begitu, Yuni menekankan adanya satu syarat utama yang wajib dipenuhi sebelum pasutri memutuskan membeli rumah, yaitu kepemilikan dana darurat yang memadai.
“Fokus pada hal yang prioritas dulu, seperti dana darurat. Setelah dana darurat terkumpul, baru bisa membuat prioritas untuk membeli rumah,” kata Yuni Astutik, Certified Financial Planner, saat diwawancarai Medcom.id.
Yuni mengibaratkan dana darurat sebagai pondasi utama dalam perencanaan keuangan rumah tangga. Tanpa pondasi yang kuat, komitmen jangka panjang seperti Kredit Pemilikan Rumah justru berpotensi menjadi beban finansial di kemudian hari.
Ia juga mengingatkan agar calon pembeli tidak mudah terpengaruh oleh narasi pemasaran yang menekankan kenaikan harga properti dan inflasi. Menurut Yuni, keputusan membeli rumah seharusnya tidak didorong oleh emosi atau rasa takut semata.
“Jangan terkecoh dan FOMO dengan kenaikan properti maupun inflasi. Yang paling penting adalah melihat dulu kesehatan keuangan sebelum mengambil keputusan,” jelas Yuni.
Dalam praktiknya, banyak pasutri yang akhirnya mengalami kesulitan keuangan karena harus membayar cicilan KPR bersamaan dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut kerap semakin berat setelah pasangan memiliki anak, terutama jika sejak awal tidak disertai perencanaan yang matang.
Dalam perencanaan keuangan keluarga, Yuni memberikan batas aman porsi utang. Ia menyarankan agar total seluruh cicilan utang, termasuk cicilan rumah, tidak melebihi 35 persen dari total penghasilan bulanan.
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Ada masa-masa ketika nasi putih biasa terasa membosankan. Bukan karena tidak enak, tapi karena kita ingin sesuatu yang lebih “niat”...
Banyak dari kita pasti pernah berada di momen klasik ini. Isi dompet mulai menipis, stok bahan di kulkas terbatas, tapi...