Harga Properti Naik, Ahli Peringatkan Pasutri Jangan Terburu Beli Rumah

Ahli keuangan mengingatkan pasutri agar tidak FOMO membeli rumah. Kesiapan dana darurat dan rasio cicilan jadi kunci sebelum KPR. (Foto: Getty Images/Edwin Tan)
Ahli keuangan mengingatkan pasutri agar tidak FOMO membeli rumah. Kesiapan dana darurat dan rasio cicilan jadi kunci sebelum KPR. (Foto: Getty Images/Edwin Tan)

Ahli keuangan mengingatkan pasutri agar tidak FOMO membeli rumah

Tren kenaikan harga properti yang terjadi hampir setiap tahun membuat keputusan membeli rumah menjadi dilema besar bagi banyak pasangan suami istri. Kekhawatiran harga rumah yang semakin mahal di masa depan kerap memicu rasa takut tertinggal atau fear of missing out, sehingga pasutri terburu-buru mengambil keputusan tanpa perencanaan keuangan yang matang.

Menanggapi fenomena tersebut, Certified Financial Planner Yuni Astutik menegaskan bahwa waktu terbaik membeli rumah tidak ditentukan oleh kondisi pasar properti. Menurut dia, faktor terpenting justru terletak pada kesiapan finansial masing-masing individu maupun pasangan.

Menurut Yuni Astutik, banyak orang kerap mempertanyakan apakah membeli rumah sebaiknya dilakukan sebelum atau sesudah menikah. Namun, ia menilai tidak ada jawaban yang bisa disamaratakan, karena kondisi keuangan setiap pasangan sangat berbeda.

Meski begitu, Yuni menekankan adanya satu syarat utama yang wajib dipenuhi sebelum pasutri memutuskan membeli rumah, yaitu kepemilikan dana darurat yang memadai.

“Fokus pada hal yang prioritas dulu, seperti dana darurat. Setelah dana darurat terkumpul, baru bisa membuat prioritas untuk membeli rumah,” kata Yuni Astutik, Certified Financial Planner, saat diwawancarai Medcom.id.

Dana darurat jadi pondasi sebelum ambil KPR

Yuni mengibaratkan dana darurat sebagai pondasi utama dalam perencanaan keuangan rumah tangga. Tanpa pondasi yang kuat, komitmen jangka panjang seperti Kredit Pemilikan Rumah justru berpotensi menjadi beban finansial di kemudian hari.

Ia juga mengingatkan agar calon pembeli tidak mudah terpengaruh oleh narasi pemasaran yang menekankan kenaikan harga properti dan inflasi. Menurut Yuni, keputusan membeli rumah seharusnya tidak didorong oleh emosi atau rasa takut semata.

“Jangan terkecoh dan FOMO dengan kenaikan properti maupun inflasi. Yang paling penting adalah melihat dulu kesehatan keuangan sebelum mengambil keputusan,” jelas Yuni.

Dalam praktiknya, banyak pasutri yang akhirnya mengalami kesulitan keuangan karena harus membayar cicilan KPR bersamaan dengan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Kondisi tersebut kerap semakin berat setelah pasangan memiliki anak, terutama jika sejak awal tidak disertai perencanaan yang matang.

Dalam perencanaan keuangan keluarga, Yuni memberikan batas aman porsi utang. Ia menyarankan agar total seluruh cicilan utang, termasuk cicilan rumah, tidak melebihi 35 persen dari total penghasilan bulanan.

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED