Imigrasi Selidiki Izin Tinggal WN China Usai Insiden Penyerangan Prajurit TNI

Imigrasi Ketapang memeriksa status izin tinggal WN China usai insiden penyerangan prajurit TNI di tambang emas Kalimantan Barat. (Foto: Arah Kata)

Imigrasi Ketapang memeriksa status izin tinggal WN China usai insiden penyerangan prajurit TNI di tambang emas Kalimantan Barat

Kantor Imigrasi Kelas II Non-TPI Ketapang mulai mendalami status keimigrasian 15 warga negara asing asal China yang terlibat insiden penyerangan terhadap prajurit TNI dan petugas keamanan tambang emas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Pemeriksaan dilakukan menyusul peristiwa keributan yang terjadi di area tambang emas yang dikelola PT Sultan Rafli Mandiri di Kecamatan Tumbang Titi pada akhir pekan lalu.

Menurut Kepala Seksi Teknologi Informasi dan Komunikasi Keimigrasian Kantor Imigrasi Ketapang Ida Bagus Putu Widia Kusuma, seluruh WN China tersebut telah dibawa ke kantor imigrasi untuk menjalani pemeriksaan administrasi. Pemeriksaan difokuskan pada kelengkapan izin tinggal serta kemungkinan adanya pelanggaran keimigrasian.

“Benar, sudah dibawa ke Kantor Imigrasi Ketapang. Terkait proses keimigrasian, sedang kami lakukan pemeriksaan. Apakah ada pelanggaran atau tidak, ini masih diperiksa,” kata Ida Bagus Putu Widia Kusuma.

Berdasarkan data dari Imigrasi Ketapang, kelima belas WN China tersebut tercatat sebagai pemegang Kartu Izin Tinggal Terbatas atau KITAS dengan sponsor perusahaan pertambangan emas PT SRM. KITAS sendiri memiliki masa berlaku antara enam bulan hingga dua tahun dan dapat diperpanjang, serta berfungsi sebagai izin tinggal dan izin kerja resmi bagi warga asing di Indonesia.

Ida Bagus menegaskan pihaknya siap mendukung proses hukum yang tengah berjalan. Saat ini, penanganan utama masih berada di tangan kepolisian, sementara Imigrasi akan mengambil langkah administratif apabila ditemukan pelanggaran izin tinggal.

Kronologi Insiden dan Perbedaan Pernyataan

Berdasarkan keterangan dari aparat TNI Angkatan Darat melalui Kodam XII Tanjungpura, insiden bermula saat prajurit yang tengah menjalani latihan menerima laporan adanya aktivitas penerbangan drone di sekitar area latihan. Saat dilakukan pengecekan, drone tersebut diketahui dioperasikan oleh beberapa WN China. Dalam proses klarifikasi, situasi berkembang hingga terjadi penyerangan secara tiba-tiba.

Menurut Kapendam XII Tanjungpura Kolonel Inf Eko Wardono, penyerangan dilakukan oleh sekelompok WN China dengan menggunakan senjata tajam, airsoft gun, dan alat setrum. Akibat kejadian tersebut, satu unit mobil perusahaan jenis Hilux dan satu sepeda motor milik karyawan mengalami kerusakan berat.

Sementara itu, manajemen PT SRM melalui Direktur Li Changjin membantah tudingan bahwa pekerjanya melakukan penyerangan. Ia mengakui keberadaan WN China sebagai staf teknis pengoperasian drone, namun mempertanyakan kehadiran aparat TNI di area tambang yang status penguasaannya masih berproses secara hukum.

Di sisi lain, pihak kepolisian menyatakan hingga kini belum menerima laporan resmi dari korban maupun perusahaan. Aparat masih melakukan klarifikasi terhadap seluruh pihak untuk memastikan rangkaian peristiwa secara menyeluruh.

Referensi: CNN Indonesia

📚 ️Baca Juga Seputar Nasional

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED