Roda-Roda Baja di Ujung Cakrawala Karat
Bab 1: Momen Beku di Bawah Matahari Pucat Lanskap Sektor Kaelen-42 tidak pernah memberikan pengampunan, apalagi kelembutan. Di dunia ini,...
Read more
Angin di ketinggian tiga ribu kaki tidak hanya bertiup; ia menggigit, mencabik, dan meraung seperti binatang buas yang kelaparan. Di sini, di ambang pintu helikopter R44 Raven II yang terbuka lebar, hukum fisika terasa seperti saran belaka, bukan aturan.
Elian mencengkeram landing skid hitam yang dingin dengan tangan kirinya. Otot-otot di lengan bawahnya menegang, membuat tato barcode minimalis—tanda lisensi Kurir Memori Kelas A—terlihat jelas di bawah siraman matahari sore. Dunia di bawahnya bukan sekadar pemandangan; itu adalah lukisan raksasa yang bergerak. Teluk Rio de Janeiro (atau apa yang tersisa darinya di tahun 2084) terhampar dalam spektrum turquoise yang menyakitkan mata saking indahnya. Air laut itu hasil purifikasi nano-karbon selama dua dekade, membuatnya lebih jernih, lebih biru, dan lebih palsu daripada ingatan masa kecil siapa pun.
“Tiga puluh detik menuju zona Golden Hour, El!” suara Val berkresek melalui headset penerbangan hitam yang menekan telinga Elian. Suara pilot wanita itu tenang, kontras dengan gemuruh rotor di atas kepala mereka.
Elian tidak menjawab. Dia sibuk mengatur senyumnya.
Ini bukan sembarang senyum. Ini adalah aset. Dalam bisnis Memory Harvesting, klien tidak membayar untuk melihat wajah ketakutan. Mereka membayar untuk merasakan euforia. Elian memiringkan tubuhnya keluar dari kabin, membiarkan gravitasi menarik torso-nya ke arah laut. Kaus merah muda pucatnya, yang berbahan serat sintetis murah, berkibar liar seperti bendera yang hendak menyerah. Dia mengenakan kacamata hitam Wayfarer klasik—bukan untuk gaya, tapi untuk menyembunyikan pupil matanya yang sedang memutih, tanda bahwa Neuro-Link di korteks otaknya sedang merekam setiap gigabyte data sensorik: bau garam, dinginnya angin, adrenalin yang membanjiri darah, dan hangatnya cahaya matahari yang membakar kulit.
“Sudut kamera oke?” teriak Elian melawan angin. Dia harus berteriak, meski mikrofon headsetnya sensitif.
“Kamera drone di sayap kiri aktif. Lensa fisheye 0.5x terkunci. Kau terlihat seperti dewa gila yang jatuh dari langit, Elian. Distorsinya sempurna. Badan helikopter melengkung seperti bola teal metalik di layarku,” jawab Val.
Elian memandang ke bawah. Di sana, ribuan meter di bawah sol sepatu lari abu-abunya yang menggantung bebas, terhampar sisa-sisa peradaban lama yang kini menjadi District One. Gedung-gedung putih padat, jalanan yang meliuk, dan garis pantai berpasir putih. Di kejauhan, gunung granit raksasa berdiri seperti penjaga bisu. Semuanya bermandikan cahaya emas. Cahaya yang mahal. Cahaya yang hanya bisa dibeli oleh mereka yang punya kredit cukup, atau dicuri oleh mereka yang nekat seperti Elian.
Dia merasakan safety harness kuning di dadanya menegang. Gesper logam dingin menekan tulang rusuknya, satu-satunya hal yang memisahkannya dari kematian. Tapi bagi Elian, kematian bukanlah jatuh ke laut. Kematian adalah kegagalan pengiriman data.
“Mulai perekaman,” bisik Elian.
Seketika, dunia melambat. Bukan secara fisik, tapi dalam persepsinya. Showtime.
“Data masuk. Stream stabil di 85%,” lapor Val. “Jantungmu berdetak 140 bpm. Kau gugup, El? Tumben.”
Elian menarik dirinya sedikit masuk ke kabin untuk mengambil napas, lalu kembali bergelantungan. “Bukan gugup, Val. Klien ini… dia berbeda.”
“Semua klien sama, Elian. Orang kaya di Upper-City yang terlalu gemuk atau terlalu takut untuk merasakan angin sungguhan. Mereka membeli keberanianmu supaya mereka bisa merasa hidup sambil duduk di sofa kulit sintetis mereka.” Val memutar kemudi, membuat helikopter itu miring tajam ke kanan. Tulisan “TÁXI AÉREO” di sisi bodi pesawat berkilat memantulkan matahari.
“Namanya Cintra,” kata Elian, suaranya parau. “Dia bukan dari Upper-City. Dia dari The Sump.”
Hening sejenak di saluran komunikasi. Hanya suara baling-baling yang mengisi kekosongan. The Sump adalah area bawah tanah, tempat di mana matahari tidak pernah menyentuh kulit, tempat di mana udara didaur ulang lima kali sebelum kau menghirupnya.
“Kau bercanda,” suara Val menajam. “Orang dari The Sump tidak mungkin mampu membayar tarif sewa helikopter ini, apalagi biaya jasamu. Bahan bakar avtur cair ini harganya lebih mahal dari ginjal manusia.”
“Dia menabung selama lima puluh tahun, Val. Lima puluh tahun menjadi pembersih filter udara.” Elian menatap horison, di mana atmospheric haze tipis memisahkan langit biru dan laut hijau. “Dia sekarat. Kanker paru-paru stadium akhir. Dia hanya ingin tahu rasanya… ini.” Elian merentangkan tangan kirinya lebar-lebar, seolah ingin memeluk cakrawala. “Dia ingin tahu rasanya melayang di atas laut saat matahari terbenam. Dia ingin mati dengan ingatan ini.”
“Dan kau memberinya diskon?”
“Aku melakukannya gratis. Bayarannya hanya untuk sewa helikoptermu.”
Terdengar helaan napas panjang dari kokpit. “Kau idiot yang melankolis, Elian. Kau tahu itu? Jika Perusahaan tahu kau menggunakan Neuro-Link berlisensi untuk amal, mereka akan mencabut otakmu lewat hidung.”
“Makanya rekaman ini harus sempurna, Val. Tidak ada glitch. Tidak ada noise. Hanya murni ekstase.” Elian kembali memamerkan gigi-giginya, membentuk senyum lebar yang ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. Janggut lebatnya menyembunyikan rahang yang gemeretak menahan dingin.
“Baiklah, Robin Hood,” kata Val, nadanya melunak. “Kita punya waktu tiga menit sebelum patroli keamanan udara mendeteksi transponder kita yang palsu. Buat ini berarti.”
Elian menutup matanya di balik kacamata hitam sesaat, lalu membukanya lebar-lebar. Dia bukan lagi Elian si yatim piatu dari sektor kumuh. Dia adalah Icarus. Dia adalah raja angkasa. Dia menyerap setiap foton cahaya, setiap molekul oksigen, mengubahnya menjadi kode biner yang akan ditanamkan ke dalam pikiran seorang pria tua yang sedang sekarat di ranjang besi berkarat, tiga kilometer di bawah tanah.
Sesuatu yang salah terjadi di menit kedua.
Bukan pada helikopter. Mesin R44 itu menderu dengan setia. Masalahnya ada di dalam kepala Elian.
Sebuah tusukan tajam, seperti jarum panas yang dipanaskan di atas api, menembus pelipis kanannya. Indikator di lensa kontak pintarnya berkedip merah: OVERHEAT WARNING. SYNAPTIC REJECTION IMMINENT.
“Val…” Elian mengerang, tangannya mencengkeram harness kuning di dadanya.
“Ada apa? Grafiknya berantakan! Gelombang otakmu melonjak liar,” teriak Val.
“Sistem… menolak… intensitas emosi,” Elian tersedak. Ini risiko dari Total Immersion Recording. Jika perasaan yang direkam terlalu kuat—kombinasi antara keindahan visual yang luar biasa dan empati mendalam Elian terhadap kliennya—Neuro-Link bisa menganggapnya sebagai serangan trauma dan mencoba memutus koneksi untuk melindungi otak inang.
“Putuskan koneksinya, Elian! Sekarang!” perintah Val.
“Tidak!” Elian berteriak, suaranya pecah ditelan angin. “Belum selesai. Matahari… belum menyentuh air. Cintra butuh bagian akhirnya. Dia butuh kedaamaiannya.”
“Kau bisa mati otak, bodoh! Jika sinkronisasi gagal saat kau masih terhubung, kau akan menjadi sayuran seumur hidup!”
Dunia di sekitar Elian mulai berdistorsi. Bukan distorsi fisheye yang indah dari lensa kamera, tapi distorsi persepsi. Lautan turquoise di bawah sana mulai terlihat seperti hamparan kaca pecah. Langit biru berubah menjadi statis abu-abu. Rasa sakit di kepalanya semakin menjadi-jadi, seolah-olah tengkoraknya sedang diperas oleh tangan raksasa.
Tapi Elian bertahan. Dia mengingat wajah Pak Tua Cintra. Wajah yang pucat, kulit yang transparan seperti kertas, dan mata yang penuh harap. ‘Aku tidak pernah melihat laut, Nak,’ kata orang tua itu. ‘Aku hanya melihat gambar di layar hologram rusak. Beri aku rasanya. Beri aku asinnya.’
“Val, pertahankan posisi!” Elian memaksa tubuhnya untuk tidak kejang. Dia melepaskan satu tangan dari pegangan, membiarkan tubuhnya terlempar lebih jauh keluar, hanya ditahan oleh tali pengaman.
“Kau gila! Ada Drone Enforcer mendekat dari arah jam tiga! Kita harus turun!”
Sebuah titik hitam muncul di kejauhan, tumbuh membesar dengan cepat. Drone patroli korporat. Mereka tidak suka ada penerbangan tidak terdaftar di zona elit saat jam emas.
“Satu menit lagi, Val! Kumohon!”
Elian memaksakan senyumnya lagi. Kali ini, itu bukan senyum palsu. Itu adalah seringai kesakitan yang ia transmutasikan menjadi ekspresi kegembiraan murni demi rekaman. Dia membiarkan rasa sakit itu menjadi bahan bakar. Dia mengubah penderitaan fisiknya menjadi euforia digital.
Drone itu sekarang sudah cukup dekat untuk terlihat detailnya—sebuah mesin pembunuh otonom berbentuk capung logam. Suara sirene digital memekakkan telinga, bahkan menembus deru baling-baling helikopter.
“UNIDENTIFIED AIRCRAFT. DESCEND IMMEDIATELY OR WE WILL ENGAGE.” Suara sintetis itu menggema di udara.
“Elian! Aku harus melakukan manuver menghindar!” teriak Val panik.
“Lakukan!” balas Elian.
Val membanting kemudi cyclic ke kiri. Helikopter itu menukik tajam, berputar seperti daun yang jatuh. Bagi orang awam, gerakan ini akan membuat perut mual dan memicu kepanikan. Tapi bagi Elian, yang masih terhubung dengan Neuro-Link, sensasi gravitasi yang hilang ini adalah emas murni.
Perasaan jatuh bebas. Perasaan lepas dari beban dunia.
Dalam momen kekacauan itu, Elian melihat matahari akhirnya mencium cakrawala. Semburat oranye, ungu, dan merah muda meledak di langit, memantul di permukaan laut yang bergolak. Cahaya itu menerpa wajahnya, mengisi setiap sel di retinanya.
Ini dia, batin Elian.
Dia tidak menutup mata. Dia menyerap semuanya. Rasa takut mati karena ditembak drone, rasa takut jatuh ke laut, rasa sakit di kepalanya—semuanya dia rangkul dan dia ubah. Dia membayangkan dirinya adalah Cintra. Dia membayangkan rasa sakit di paru-parunya hilang, digantikan oleh udara asin yang segar. Dia membayangkan kebebasan.
“Dapat!” teriak Elian saat indikator di matanya berubah menjadi hijau: UPLOAD COMPLETE.
“Pegangan!” jerit Val.
Helikopter itu melesat rendah di atas permukaan air, menciptakan semburan buih putih, menghindari sinar laser pembidik dari drone yang meleset hanya beberapa meter. Val, dengan keahlian pilot tempur veteran, membawa pesawat itu meliuk di antara celah gedung-gedung tua di pesisir, masuk ke dalam bayangan kota, menghilang dari radar.
Elian terlempar kembali ke dalam kabin. Dia terengah-engah, keringat dingin membasahi kaus merah mudanya yang kusut. Kacamata hitamnya terlepas, memperlihatkan mata yang merah dan berair. Hidungnya mimisan.
Tapi dia tertawa. Tawa yang histeris, tawa yang terdengar seperti tangisan.
Tiga jam kemudian.
Elian berdiri di sudut ruangan sempit di The Sump. Bau oli bekas dan jamur menguap di udara. Di atas ranjang besi, Pak Tua Cintra terbaring diam, sebuah kabel serat optik terhubung ke port di belakang telinganya.
Mata orang tua itu tertutup, tapi air mata mengalir dari sudut kelopak matanya yang keriput. Dadanya naik turun dengan irama yang tenang, jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Di layar monitor di samping tempat tidur, Elian bisa melihat apa yang sedang dialami Cintra. Visual yang direkam Elian diputar ulang. Langit biru yang tak masuk akal. Lautan turquoise. Angin yang menerpa wajah. Dan perasaan itu… perasaan terbang tanpa beban. Perasaan melupakan rasa sakit.
Val berdiri di ambang pintu, bersandar sambil melipat tangan. Wajahnya yang biasanya keras terlihat lembut. “Kau hampir membunuh kita berdua, El.”
“Tapi kita hidup,” jawab Elian pelan, menyeka sisa darah kering di bawah hidungnya.
Cintra membuka matanya perlahan. Mata itu, yang tadinya redup oleh penyakit, kini memiliki kilau aneh. Kilau seseorang yang baru saja melihat surga.
“Dingin…” bisik Cintra, suaranya lemah seperti gesekan kertas pasir. “Anginnya… dingin. Dan airnya… sangat biru. Apakah… apakah itu nyata, Nak?”
Elian mendekat, memegang tangan orang tua yang kasar itu. Dia teringat kembali momen di atas helikopter tadi. Rasa sakit kepala yang menyiksa, ketakutan akan drone pembunuh, manuver yang hampir merenggut nyawa. Semua itu telah dihapus dari rekaman. Yang tersisa hanyalah keindahan yang disuling. Kebohongan yang indah.
Tapi melihat kedamaian di wajah Cintra, Elian sadar. Terkadang, realitas terlalu berat untuk dipikul sendirian. Terkadang, manusia butuh fiksi untuk bisa pergi dengan tenang.
“Ya, Pak,” jawab Elian lembut. “Itu nyata. Senyata yang Bapak rasakan.”
Cintra tersenyum. Senyum yang persis sama dengan senyum Elian di foto itu—senyum lebar, penuh kegembiraan, dan bebas. Perlahan, napasnya melambat, lalu berhenti. Monitor jantung berbunyi datar, nada panjang yang menandakan akhir sebuah perjalanan.
Elian melepaskan kabel dari kepala Cintra. Dia berjalan keluar dari ruangan itu, melewati lorong-lorong gelap The Sump, menuju lift yang akan membawanya kembali ke permukaan.
Di saku celananya, dia meraba kacamata hitamnya. Dia memakainya kembali, meski di bawah tanah tidak ada matahari. Dia adalah Kurir Memori. Tugasnya adalah menjual mimpi, sambil menanggung mimpi buruk agar orang lain tidak perlu merasakannya.
Dan hari ini, untuk pertama kalinya, dia merasa pekerjaannya memiliki arti.
🎨 CREATE THIS ART (Copy & Paste):
Ingin membuat visualisasi seperti dalam cerita ini? Silakan salin prompt di bawah ini dan gunakan di Gemini (Nano Banana).
Markdown
[GEMINI PROMPT BAHASA INDONESIA]
JIKA TERLIHAT WAJAH: GUNAKAN FOTO WAJAH PENGGUNA SEBAGAI SUMBER IDENTITAS WAJAH SAJA. TRANSFORMASI DIBATASI KETAT PADA AREA WAJAH. SEMUA ELEMEN LAIN (POSE, FRAMING, KAMERA, LIGHTING, WARNA, TEKSTUR, DAN KOMPOSISI) WAJIB IDENTIK DENGAN HASIL PROMPT INI.
Versi Panjang Ultra-Detail:
Foto ultra-hyperrealistic 16K yang diambil dengan kamera aksi GoPro menggunakan lensa fisheye ekstrem (0.5x ultra-wide). Subjek utama adalah seorang pria dewasa muda dengan janggut lebat yang tersenyum lebar penuh kegembiraan, berpose asimetris dengan tubuh miring keluar dari pintu helikopter yang terbuka tinggi di atas laut. Pria tersebut mengenakan kacamata hitam Wayfarer, headset penerbangan hitam, kaos merah muda pucat yang sedikit kusut, celana pendek hitam, dan safety harness kuning cerah yang melintang di dada dengan detail gesper logam yang nyata.
Perspektif kamera menciptakan "Extreme Barrel Distortion" di mana badan helikopter berwarna teal gelap metalik melengkung secara sferis. Terlihat detail tulisan "TÁXI AÉREO" dan "R44 Raven II" pada permukaan logam helikopter yang memiliki pantulan cahaya matahari. Lengan kiri pria tersebut terentang ke arah pemandangan, memperlihatkan tato minimalis di lengan bawah. Kaki kiri menjuntai di atas pijakan helikopter (landing skid) hitam, mengenakan kaos kaki hitam dan sepatu lari abu-abu.
Latar belakang adalah pemandangan pantai tropis yang spektakuler dari ketinggian ribuan kaki. Air laut berwarna hijau toska (turquoise) dengan ombak putih kecil di pesisir, pemukiman kota yang padat, dan gunung batu granit raksasa di kejauhan. Pencahayaan menggunakan "Warm Golden Hour Sunlight" yang menciptakan kontras tajam dan rim lighting pada pakaian pria tersebut. Atmosfer sangat jernih di latar depan, dengan "Atmospheric haze" tipis di cakrawala. Kualitas gambar adalah "RAW amateur photography snapshot", dengan "natural sensor noise", "chromatic aberration" halus di tepian lensa, dan "ultra-sharp focus" pada subjek utama.
LOCK: UBAH GAMBAR YANG SAYA UPLOAD INI HANYA SEBAGAI ASPEK RATIO, TERAPKAN SEBAGAI BERIKUT:
ASPECT RATIO 4:5
[NEGATIF PROMPT]
no fog, no heavy haze, no CGI look, no 3D render, no plastic skin, no symmetrical pose, no flat lighting, no straight horizon, no architectural correction, no vertical walls, no clean air perspective, no blurry subject, no distorted face.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ruang Imajinasi Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ruang imajinasi — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Platform pembayaran digital global, PayPal, mengonfirmasi adanya insiden keamanan yang menyebabkan kebocoran data pribadi ratusan pengguna. Sejumlah akun dilaporkan terdampak...
Perusahaan teknologi global Cisco memperkenalkan chip switching terbaru bernama Silicon One G300 serta inovasi operasional berbasis AI yang disebut AgenticOps....