Roda-Roda Baja di Ujung Cakrawala Karat
Bab 1: Momen Beku di Bawah Matahari Pucat Lanskap Sektor Kaelen-42 tidak pernah memberikan pengampunan, apalagi kelembutan. Di dunia ini,...
Read more
Angin di Sektor 4 tidak sekadar bertiup; ia menggigit. Ia membawa serta partikel garam dari lautan yang direkayasa secara genetika dan debu silika dari gurun di utara. Namun bagi Kaelen, angin itu terasa seperti satu-satunya hal yang jujur di planet koloni ini.
Ia berdiri di sana, membiarkan kakinya tenggelam perlahan ke dalam pasir basah yang padat. Pasir itu dingin, kontras dengan udara sore yang masih menyimpan sisa panas dari dua matahari buatan yang kini mulai meredup di cakrawala. Cahaya itu—warna oranye keemasan yang meledak dan tumpah ruah di permukaan air—adalah sebuah mahakarya optik. Golden Hour. Sebuah ilusi kenyamanan sebelum malam pembekuan data tiba.
Kaelen menyipitkan matanya. Bukan hanya karena silau, tetapi karena interface di retina matanya sedang berjuang menstabilkan fokus. Cahaya matahari memantul tajam di kulit wajahnya yang sedikit berminyak karena kelembapan tropis buatan. Pori-pori di pipinya terasa terbuka, bernapas, menyerap setiap inci kehangatan terakhir sebelum sistem planet melakukan reboot.
Ia tidak bergerak. Posturnya asimetris, berat badannya bertumpu sepenuhnya pada kaki kanan, sebuah kebiasaan lama yang ia bawa dari Bumi—sebuah planet yang kini hanya tinggal dongeng di buku sejarah. Tangan kirinya terkubur di saku celana panjang putihnya, merasakan tekstur kain katun yang lembap menempel di paha. Sementara tangan kanannya, dengan cengkeraman yang santai namun possessif, memegang sebuah benda kotak berwarna hitam.
Sebuah Smartphone. Artefak dari abad ke-21. Benda itu kuno, berat, dan sama sekali tidak efisien dibandingkan dengan implan saraf yang dimiliki semua warga Aethelgard. Tapi benda itu memiliki satu hal yang tidak dimiliki cloud server manapun: isolasi. Benda itu offline. Penjara sekaligus tempat perlindungan.
Kemeja linen putih yang dikenakannya—tipis, transparan, dan kasar—berkibar liar tertiup angin laut. Kancingnya sengaja ia buka hingga ke dada, membiarkan angin menampar kulitnya. Ia tidak peduli pada kerapian. Di sini, di ujung dunia, kerapian adalah konsep yang tidak relevan. Lipatan kain di sikunya, kerutan di pinggang celananya, semua mengikuti gravitasi dengan kepasrahan yang melankolis.
“Kau punya waktu empat menit, Kaelen,” sebuah suara berbisik langsung ke tulang pendengarannya. Itu bukan suara Tuhan, melainkan suara AI navigasi ilegal yang ia tanam di koklea telinganya.
Kaelen tidak menjawab. Ia hanya menatap lensa imajiner di depannya—cakrawala. Rambut hitam pendeknya yang acak-acakan menari-nari ditiup angin, helai-helai rambut yang lepas (flyaways) berkilauan ditimpa cahaya matahari belakang (rim light), menciptakan halo yang membuatnya terlihat seperti malaikat yang jatuh. Tapi dia bukan malaikat. Dia adalah penyelundup. Dan muatan yang ia bawa hari ini bukanlah senjata atau narkotika sintetis.
Muatannya adalah sebuah jiwa.
Benda hitam di tangan kanannya bergetar pelan. Layar smartphone itu menyala, menampilkan baris kode biner yang bergulir cepat, menimpa wallpaper foto lama: dua anak laki-laki yang tertawa di bawah hujan asli, bukan hujan asam.
“Jangan diam saja,” suara itu kembali, kali ini terdengar lebih mendesak. “Protokol ‘Nightfall’ sudah dimulai di Sektor 1. Gelombang pembersihan akan sampai di sini sebentar lagi. Jika kau tidak menghubungkan device itu ke Node Pasir sekarang, Ren akan hilang selamanya.”
Kaelen menghela napas panjang. Udara asin memenuhi paru-parunya. “Aku tahu, Hera. Aku hanya… sedang mengingatnya.”
“Mengingat tidak akan menyelamatkannya. Transfer data yang akan menyelamatkannya.”
Kaelen mengangkat smartphone itu sejajar dengan dadanya. Ia menatap layar retak itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara cinta yang mendalam dan keletihan yang luar biasa.
“Apa kau yakin dia ingin kembali?” tanya Kaelen, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh debur ombak yang semakin keras. “Dunia ini bukan tempat yang ramah untuk Construct digital, Hera. Dia akan hidup sebagai kode. Tanpa tubuh. Tanpa rasa angin di wajahnya. Tanpa rasa sakit.”
“Tanpa rasa sakit terdengar seperti surga bagi seseorang yang mati karena wabah saraf, Kaelen,” jawab Hera tajam. AI itu tidak memiliki empati, hanya logika probabilitas. “Kau menghabiskan tiga tahun gaji, menjual hak waris genetikmu, dan menyuap tiga penjaga gerbang hanya untuk mendapatkan akses ke Physical Buffer di pantai ini. Jangan menjadi filosofis di detik-detik terakhir.”
Kaelen tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang tidak mencapai matanya. “Kau benar. Seperti biasa.”
Ia menunduk, melihat kakinya yang terbenam di pasir basah. Di Aethelgard, pantai ini bukan sekadar rekreasi. Pasir ini adalah konduktor. Jutaan butir silika yang berfungsi sebagai access point raksasa ke server pusat ‘The Hive’. Di sinilah orang-orang kaya mengunggah kesadaran mereka sebelum tubuh fisik mereka rusak. Tapi Kaelen bukan orang kaya. Dia di sini untuk meretas masuk melalui pintu belakang.
“Hai, Ren,” bisik Kaelen pada telepon genggam itu. “Maaf membuatmu menunggu di dalam kotak gelap ini selama setahun. Pemandangannya bagus hari ini. Kau pasti suka. Mataharinya terlihat… dramatis.”
Angin bertiup lebih kencang, membuat kemeja linennya menempel ketat di tubuh kurusnya, mencetak tulang rusuk yang samar. Ia bisa merasakan dingin mulai merambat naik dari kakinya. Air laut mulai pasang. Bukan pasang alami, melainkan sistem pendingin server bawah tanah yang mulai aktif.
“Tiga menit,” peringatan Hera terdengar seperti lonceng kematian. “Koneksikan. Sekarang.”
Kaelen berlutut. Gerakannya lambat, seolah melawan tekanan udara yang memberat. Ia tidak meletakkan smartphone itu begitu saja. Ia membenamkannya setengah inci ke dalam pasir basah yang padat, tepat di mana air laut baru saja surut, meninggalkan lapisan kaca air yang memantulkan langit.
Begitu logam smartphone menyentuh pasir basah, dunia berubah.
Suara debur ombak yang alami tiba-tiba disusupi oleh dengung statis berfrekuensi rendah. Humming listrik yang membuat gigi ngilu. Cahaya matahari yang indah itu berkedip—glitch visual. Selama sepersekian detik, langit oranye itu berubah menjadi grid neon hijau, memperlihatkan struktur wireframe dari simulasi atmosfer, sebelum kembali menjadi senja yang indah.
“Koneksi terdeteksi,” lapor Hera. “Enkripsi level 5. Aku sedang mencoba menjebol firewall lokal. Tahan posisimu.”
Tiba-tiba, tanah bergetar. Bukan gempa bumi. Itu adalah Pulse. Sistem pertahanan planet mendeteksi intrusi ilegal.
“Peringatan. Entitas biologis tidak teridentifikasi,” suara sintetis menderu dari langit, bukan dari telinganya, tapi dari pengeras suara atmosferik yang tersembunyi di balik awan. “Aktivitas ilegal terdeteksi di Koordinat Pantai 4-Alpha. Penindakan akan segera dilakukan.”
Kaelen berdiri tegak kembali, jantungnya memacu adrenalin ke seluruh tubuhnya. Ia tidak lari. Ia tidak bisa lari. Smartphone itu harus tetap berkontak dengan pasir sampai unggahan selesai. Ia adalah tameng daging untuk sebuah proses digital.
“Hera, berapa lama?” teriak Kaelen, suaranya kini harus bersaing dengan angin yang menderu seperti mesin jet.
“45 persen. Mereka mengirim Scrubber Drones,” jawab Hera, nadanya mulai terdengar panik—sebuah anomali bagi AI. “Kaelen, kau harus melindunginya. Drones itu akan menembakkan gelombang EMP terfokus. Jika kena HP itu, Ren akan terhapus. Permanen.”
Di cakrawala, tiga titik hitam muncul dari balik matahari yang terbenam. Mereka bergerak cepat, membelah udara dengan presisi militer. Drone pembersih. Mereka tidak membawa peluru; mereka membawa kehampaan elektromagnetik.
Kaelen memandang smartphone di kakinya. Layarnya berkedip-kedip menampilkan wajah adiknya. Baris loading berwarna hijau bergerak lambat. Terlalu lambat.
Ia menatap tubuhnya sendiri. Kemeja putihnya kini basah oleh keringat dan cipratan air laut. Ia hanyalah daging dan tulang. Tapi daging dan tulang mengandung air. Dan air memblokir gelombang mikro.
“Aku mengerti,” gumam Kaelen.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Hera.
“Menjadi Sangkar Faraday,” jawab Kaelen.
Kaelen menjatuhkan dirinya ke atas pasir. Bukan untuk beristirahat, tapi untuk menutupi smartphone itu dengan tubuhnya sendiri. Ia meringkuk, melindungi benda kecil itu di bawah dadanya, menciptakan kubah perlindungan dari daging manusia.
Pasir basah menempel di wajahnya, di kemejanya, di kulitnya. Rasanya dingin dan kasar.
Wuuush!
Drone pertama melintas di atas kepala, mengirimkan gelombang panas yang tidak membakar kulit, tapi membakar saraf. Kaelen menjerit tanpa suara. Rasanya seperti seluruh giginya dibor secara bersamaan. Gelombang EMP itu dirancang untuk menghancurkan sirkuit, dan sistem saraf manusia pada dasarnya adalah sirkuit listrik biologis.
“Sistem sarafmu mengalami overload!” teriak Hera. “Jantungmu aritmia! Bangun, Kaelen! Biarkan saja datanya!”
“Tidak!” Kaelen mengeratkan pelukannya pada smartphone di bawah dadanya. “Dia… adikku!”
Ia bisa merasakan getaran dari HP itu menembus kulit dadanya, seolah detak jantung kedua. 60 persen… 70 persen…
Drone kedua datang lebih rendah. Suaranya memekakkan telinga. Angin dari baling-balingnya mengacak-acak rambut Kaelen, melempar pasir ke matanya. Kaelen memejamkan mata, wajahnya meringis menahan sakit kepala yang luar biasa. Pembuluh darah di pelipisnya menonjol, berdenyut seirama dengan lampu indikator di HP.
Di dalam kegelapan kelopak matanya, ia melihat memori-memori itu. Bukan memori Ren, tapi memorinya sendiri bersama Ren. Saat mereka berbagi satu jatah makanan sintetis. Saat Ren merakit radio bekas untuk mendengar suara hujan dari arsip lama. Saat Ren tersenyum sebelum menutup mata di bangsal rumah sakit yang bau obat.
“Ambil ini,” batin Kaelen berteriak pada sistem. “Ambil rasa sakit ini sebagai bayarannya!”
Serangan ketiga adalah yang terberat. Langit seolah runtuh. Cahaya putih menyelimuti segalanya. Kaelen merasa seolah-olah jiwanya ditarik keluar paksa melalui pori-pori kulitnya. Ia tersentak hebat, punggungnya melengkung, jari-jarinya mencengkeram pasir basah hingga kuku-kukunya patah. Kemeja linen putihnya kini kotor, basah, dan lecek, namun masih berkibar menantang badai.
“99 persen…” suara Hera terdengar jauh, seperti gema di dalam gua.
Pandangan Kaelen memutih. Telinganya berdenging panjang. Ia tidak lagi merasakan pasir. Ia tidak lagi merasakan dingin. Ia hanya merasakan kehampaan yang damai.
Hening.
Suara debur ombak kembali terdengar. Lembut. Ritmis.
Kaelen membuka matanya. Napasnya tersengal-sengal, pendek dan berat. Rasa asin memenuhi mulutnya. Ia masih terbaring di pasir, meringkuk seperti janin. Matahari sudah sepenuhnya tenggelam. Langit kini berwarna ungu tua, memar yang indah di wajah semesta.
Perlahan, dengan sisa tenaga yang ada, ia menggeser tubuhnya. Ia mengangkat dadanya dari pasir.
Di sana, tergeletak di cekungan pasir yang ia buat, smartphone hitam itu mati. Layarnya gelap gulita. Tidak ada lampu indikator. Tidak ada getaran. Benda itu kini hanyalah sepotong sampah elektronik, sirkuitnya hangus terbakar oleh residu EMP yang berhasil diredam tubuh Kaelen.
“Hera?” bisik Kaelen.
Hening sejenak. Lalu, suara itu muncul, lemah tapi jelas. “Transfer… selesai. Paket data diterima oleh Hive Sektor 7 sebelum device hancur.”
Kaelen menjatuhkan punggungnya ke pasir, menatap bintang-bintang buatan yang mulai dinyalakan satu per satu di langit. Ia tertawa. Tawa yang lemah, serak, tapi penuh kelegaan. Air mata mengalir dari sudut matanya, membasahi pelipisnya, bercampur dengan pasir.
Ren ada di sana sekarang. Di atas sana. Di dalam awan digital. Abadi. Mungkin suatu hari nanti, jika Kaelen menabung cukup banyak kredit, ia bisa membeli akses premium untuk mengunjungi adiknya. Mungkin mereka bisa bertemu dalam simulasi hujan yang disukai Ren.
Kaelen bangkit berdiri dengan susah payah. Kakinya gemetar. Ia membersihkan pasir dari celana dan kemejanya, meski sia-sia. Penampilannya berantakan—rambut kacau, baju kusut, wajah lelah—tapi ia merasa lebih “bersih” daripada sebelumnya.
Ia memungut bangkai smartphone itu. Ia tidak membuangnya. Ia memasukkannya kembali ke saku celananya. Itu adalah batu nisannya sekarang.
Kaelen berdiri tegak, memandang laut gelap yang tenang. Angin malam mulai menusuk tulang, tapi ia tidak lagi merasa kedinginan. Ia membenarkan kerah kemejanya yang terbuka, lalu berbalik memunggungi lautan.
Lampu-lampu kota koloni di kejauhan mulai menyala, memanggilnya pulang ke realitas yang keras. Tapi untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, Kaelen berjalan bukan sebagai seseorang yang dihantui masa lalu, melainkan sebagai penjaga janji yang telah lunas.
Di belakangnya, jejak kakinya di pasir perlahan disapu oleh air pasang, menghapus bukti bahwa ia pernah ada di sana, di tepian waktu, menawar keabadian dengan nyawanya.
Ingin membuat visualisasi seperti dalam cerita ini? Silakan salin prompt di bawah ini dan gunakan di Gemini (Nano Banana):
Plaintext
(VERSIPANJANG ULTRA-DETAIL)
FOTOGRAFI POTRET RAW REALISTIS & KARAKTER.
Subjek utama adalah seorang laki-laki muda Asia (perkiraan usia 20-25 tahun) yang berdiri di pantai saat matahari terbenam (golden hour).
KARAKTER & ANATOMI: Wajah memiliki fitur Asia yang tegas namun muda, kulit memiliki tekstur pori-pori mikro yang sangat nyata, ketidaksempurnaan kulit alami (uneven skin tone), sedikit kilap minyak/keringat (moisture highlight) yang memantulkan cahaya matahari sore. Ekspresi tenang menatap lensa dengan sedikit "squint" karena cahaya matahari. Rambut hitam pendek bergaya modern, sedikit berantakan (windblown chaos) tertiup angin laut, dengan helai-helai rambut individual yang tajam (flyaways) diterangi oleh rim light matahari.
POSE & GESTUR: Postur berdiri santai namun ASIMETRIS (tidak kaku/tegak lurus), berat badan bertumpu pada satu kaki (contrapposto halus). Tangan kiri dimasukkan ke dalam saku celana, menciptakan lekukan natural pada kain. Tangan kanan memegang smartphone berwarna hitam di sisi tubuh dengan pegangan yang santai. Kepala sedikit miring, tidak simetris sempurna.
PAKAIAN & MATERIAL: Mengenakan kemeja lengan panjang berwarna putih berbahan LINEN atau katun tipis yang sedikit transparan (sheer). Kancing kemeja dibuka hingga bagian dada (unbuttoned), memperlihatkan kulit dada yang terkena cahaya. Tekstur kain kemeja harus terlihat kasar, berserat alami, dengan lipatan-lipatan (wrinkles) yang mengikuti gravitasi dan gerakan tubuh, bukan kain yang disetrika licin. Lengan kemeja memiliki detail manset yang santai. Mengenakan celana panjang putih (atau celana pendek yang terlihat sebagian) dengan bahan yang serasi. Pakaian memantulkan cahaya lingkungan (ambient bounce) namun tetap memiliki bayangan dalam di lipatan.
LINGKUNGAN & ATMOSFER: Lokasi di pantai berpasir basah saat surut. Tanah pijakan adalah pasir pantai yang basah dan padat, memantulkan siluet subjek dan cahaya langit dengan detail "wet surface reflection". Di latar belakang, laut tenang dengan riak kecil (realistic water ripples), cakrawala melengkung alami. Matahari terbenam tepat di sisi kiri bingkai, menciptakan ledakan cahaya oranye-emas (sunstar/flare) yang menyentuh permukaan air. Langit dipenuhi awan dramatis dengan gradasi warna dari or
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ruang Imajinasi Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ruang imajinasi — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Platform pembayaran digital global, PayPal, mengonfirmasi adanya insiden keamanan yang menyebabkan kebocoran data pribadi ratusan pengguna. Sejumlah akun dilaporkan terdampak...
Perusahaan teknologi global Cisco memperkenalkan chip switching terbaru bernama Silicon One G300 serta inovasi operasional berbasis AI yang disebut AgenticOps....