Pemerintah Waspadai Ancaman Kanker Serviks pada Perempuan Indonesia
Ancaman kanker leher rahim atau kanker serviks masih membayangi perempuan Indonesia. Berdasarkan estimasi nasional, sekitar 400 ribu perempuan diperkirakan hidup...
Read more
Minum susu di malam hari menjadi rutinitas bagi sebagian orang karena dipercaya membantu tubuh lebih rileks dan mendukung kualitas tidur. Namun, kebiasaan ini kerap menimbulkan pertanyaan, terutama bagi mereka yang memperhatikan kadar gula darah. Apakah konsumsi susu saat malam hari aman, atau justru berisiko memicu lonjakan glukosa?
Jawaban atas pertanyaan tersebut tidak bisa disamaratakan. Dampak minum susu di malam hari sangat dipengaruhi oleh ritme metabolisme tubuh, jenis susu, serta waktu dan porsi konsumsi.
Tubuh manusia bekerja mengikuti ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur metabolisme dari pagi hingga malam. Pada siang hingga sore hari, sensitivitas insulin berada pada kondisi yang relatif optimal. Glukosa dari makanan atau minuman dapat diproses lebih efisien menjadi energi.
Namun, ketika malam tiba, metabolisme mulai melambat seiring persiapan tubuh untuk beristirahat. Respons sel terhadap insulin cenderung menurun. Kondisi ini membuat glukosa yang masuk ke dalam darah, termasuk dari laktosa dalam susu, berpotensi bertahan lebih lama atau meningkat lebih tinggi dibandingkan waktu siang hari.
Pada orang dengan prediabetes, diabetes, atau pola tidur yang tidak teratur, situasi ini bisa terasa lebih signifikan. Kurang tidur atau kebiasaan begadang diketahui dapat meningkatkan hormon stres seperti kortisol, yang berperan mengganggu kerja insulin. Kombinasi metabolisme yang melambat dan peningkatan hormon stres membuat pengendalian gula darah di malam hari menjadi lebih sensitif.
Inilah alasan mengapa konsumsi makanan atau minuman manis pada malam hari sering perlu perhatian ekstra. Bukan karena malam hari sepenuhnya dilarang, melainkan karena cara tubuh memproses gula memang berbeda.
Susu dikenal sebagai sumber nutrisi penting, tetapi tetap mengandung karbohidrat alami berupa laktosa. Saat dikonsumsi, laktosa akan dipecah menjadi glukosa dan galaktosa, yang dapat memengaruhi kadar gula darah.
Kandungan protein dan lemak dalam susu berperan memperlambat penyerapan glukosa, sehingga lonjakan gula darah tidak terjadi secepat minuman manis lain. Meski begitu, efek ini tidak selalu cukup untuk menetralkan dampak karbohidrat, terutama bila susu mengandung gula tambahan.
Informasi terbaru menyebutkan bahwa susu dengan pemanis tambahan, seperti susu berperisa atau susu kental manis, berisiko memicu peningkatan gula darah yang lebih tinggi. Sebaliknya, susu tanpa gula tambahan atau dengan komposisi karbohidrat yang lebih terkontrol cenderung memberikan respons glukosa yang lebih stabil, meskipun tetap perlu diperhatikan waktu dan porsinya.
Dengan kata lain, jenis susu menjadi faktor kunci dalam menentukan aman atau tidaknya konsumsi susu di malam hari bagi gula darah.
Selain jenis susu, waktu konsumsi dan ukuran porsi memegang peran penting. Minum susu terlalu dekat dengan jam tidur umumnya kurang ideal, karena saat itu metabolisme tubuh sudah melambat dan sensitivitas insulin menurun.
Memberi jarak sekitar satu hingga dua jam sebelum tidur dinilai lebih aman dibandingkan minum susu tepat sebelum berbaring. Jarak waktu ini memberi kesempatan bagi tubuh untuk memproses glukosa dengan lebih baik.
Dari sisi porsi, konsumsi susu dalam jumlah besar di malam hari dapat memberikan asupan karbohidrat yang cukup signifikan. Porsi kecil hingga sedang, sekitar satu gelas atau kurang lebih 200 mililiter, umumnya lebih disarankan, khususnya bagi individu dengan gangguan pengendalian gula darah.
Kebiasaan yang menyertai konsumsi susu juga berpengaruh. Mengonsumsi susu bersamaan dengan camilan manis atau tinggi karbohidrat sederhana dapat memperbesar lonjakan gula darah. Sebaliknya, menjadikan susu sebagai konsumsi tunggal tanpa tambahan gula cenderung lebih terkendali.
Dengan memahami faktor jenis, waktu, dan porsi, kebiasaan minum susu di malam hari dapat disesuaikan tanpa harus sepenuhnya dihindari, sambil tetap menjaga kestabilan gula darah.
Referensi:
Detik Health
Times of India
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Kesehatan Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia kesehatan — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan bahwa waktu hampir habis bagi Teheran...
Kamera ponsel Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi sorotan publik setelah terlihat ditutup menggunakan selotip. Momen tersebut terekam dalam sebuah...