Bos Telegram Kritik Keamanan WhatsApp dan Sebut Rentan Dipakai pada 2026
Persaingan aplikasi pesan instan kembali memanas pada awal 2026. Pendiri sekaligus CEO Telegram, Pavel Durov, melontarkan kritik tajam terhadap WhatsApp...
Read more
Dokumen internal yang bocor mengungkap bahwa Meta, perusahaan induk dari Facebook, Instagram, dan WhatsApp, mendapat sebagian besar pendapatannya dari iklan bermasalah, termasuk scam ads dan promosi barang terlarang.
Dokumen tersebut memperkirakan sekitar 10 persen dari total pendapatan Meta tahun 2024, setara US$16 miliar (Rp 267 triliun), berasal dari iklan berisiko tinggi. Total pendapatan Meta pada tahun yang sama mencapai lebih dari US$164,5 miliar (Rp 2.748 triliun), sebagian besar berasal dari bisnis iklan di platform media sosialnya.
Sebagian besar iklan bermasalah berasal dari pengiklan yang telah terdeteksi mencurigakan oleh sistem internal Meta. Namun, alih-alih memblokir sepenuhnya, perusahaan menerapkan tarif iklan lebih tinggi bagi pengiklan berisiko tinggi.
Menurut dokumen yang dilaporkan Reuters, kebijakan ini bertujuan sebagai langkah “pencegahan” agar pengiklan penipu enggan beriklan. Meski demikian, Meta tetap memperoleh pendapatan besar dari iklan bermasalah tersebut.
Selain itu, sistem personalisasi Meta menampilkan iklan yang sesuai minat pengguna, sehingga pengguna yang pernah mengeklik iklan penipuan cenderung melihat iklan scam serupa lebih sering. Dokumen internal menyebutkan bahwa sekitar 15 miliar iklan berisiko tinggi ditayangkan setiap hari di platform Meta, termasuk iklan investasi palsu, e-commerce fiktif, kasino ilegal, dan obat terlarang.
Temuan ini memicu kritik dari pakar keamanan digital. Menurut Sandeep Abraham, mantan penyelidik keamanan Meta, kebijakan tersebut menunjukkan lemahnya pengawasan industri periklanan digital. “Jika regulator tidak membiarkan bank mendapat keuntungan dari aktivitas penipuan, maka perusahaan teknologi juga tidak seharusnya diizinkan melakukan hal yang sama,” kata Abraham kepada Reuters.
Menanggapi hal ini, juru bicara Meta Andy Stone membantah perusahaan sengaja mencari keuntungan dari iklan penipuan. Stone menjelaskan angka 10 persen hanyalah perkiraan kasar dan terlalu luas cakupannya. Ia menekankan sebagian besar iklan yang dihitung dalam dokumen tersebut sebenarnya sah, dan analisis internal dilakukan untuk menilai efektivitas investasi keamanan iklan.
Stone menambahkan, Meta telah berupaya agresif menekan penipuan digital. Dalam 18 bulan terakhir, laporan pengguna terkait scam ads turun 58 persen secara global, dan sepanjang 2025 lebih dari 134 juta iklan penipuan telah dihapus. Meta menargetkan pengurangan iklan scam hingga 50 persen di beberapa wilayah pada tahun mendatang.
Referensi: Kompas
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Internet Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia internet — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Insiden pedagang sate berguling histeris di kawasan Malioboro, Kota Yogyakarta, menjadi perhatian luas setelah videonya viral di media sosial. Peristiwa...
Ajang penghargaan musik bergengsi Grammy Awards 2026 dipastikan akan menghadirkan deretan musisi papan atas dunia. Salah satu nama yang dikonfirmasi...