Roda-Roda Baja di Ujung Cakrawala Karat
Bab 1: Momen Beku di Bawah Matahari Pucat Lanskap Sektor Kaelen-42 tidak pernah memberikan pengampunan, apalagi kelembutan. Di dunia ini,...
Read more
Gravitasi adalah tuhan yang pemarah di New Babel, dan hari ini, dia sedang mengamuk.
Elias tidak tahu sudah berapa lama dia menggantung di sana. Waktu, seperti halnya fisika di kota ini, telah kehilangan maknanya. Satu-satunya realitas yang absolut adalah rasa sakit di lengan kanannya.
Otot bisep dan lengan bawahnya menjerit, sebuah simfoni asam laktat yang membakar. Jari-jarinya, kaku dan memutih, mencengkeram balok baja H-beam dingin yang menonjol dari reruntuhan Gedung Ozymandias. Dia tidak berani melihat ke bawah. Di New Babel, “bawah” adalah konsep yang relatif. Terkadang itu adalah jalanan aspal yang retak ribuan meter di bawah kaki, terkadang itu adalah puncak gedung lain yang melayang terbalik, menantang langit yang sudah tidak ada lagi.
Sebuah Dutch Angle yang kejam memiringkan dunianya. Horizon bukan lagi garis lurus, melainkan sebuah lereng curam yang menjerumuskan kewarasan.
Napas Elias pendek-pendek, tersengal di antara gigi yang terkatup rapat. Debu abu-abu dari beton yang hancur melapisi wajahnya, bercampur dengan keringat dingin dan noda darah kering dari luka di pelipisnya—oleh-oleh dari ledakan di Sektor 7 dua jam lalu. Rambut cokelat gelapnya yang dipotong undercut berantakan, ditarik oleh angin kencang yang tidak wajar, angin yang berhembus ke atas, membawa puing-puing kecil dan serpihan kaca bersamanya.
Di pergelangan tangan kanannya—tangan yang menjadi jangkar hidupnya—sebuah jam tangan analog kronograf perak tebal berdetak. Detik demi detik yang mengejek. Jarumnya terus bergerak, acuh tak acuh pada fakta bahwa pemiliknya sedang di ambang kematian. Di bawah jam tangan itu, di bagian dalam lengan bawahnya yang tegang, tato hitam putih bergambar wajah seorang wanita menatap balik padanya. Lyra. Wajah itu adalah satu-satunya jangkar emosional yang masih dia miliki di dunia yang jungkir balik ini.
“Jangan lihat ke bawah, Eli. Jangan berani-berani,” bisiknya pada diri sendiri, suaranya parau dan hilang ditelan deru angin.
Pemandangan di sekelilingnya adalah mimpi buruk arsitek yang menjadi nyata. Gedung-gedung pencakar langit dari kaca dan baja, yang dulu menjadi kebanggaan peradaban korporat, kini bengkok dan patah. Beberapa melayang miring di udara, fondasi beton mereka tercabut dari tanah seperti akar gigi yang busuk. Kabel-kabel baja raksasa putus, menjuntai seperti tentakel monster laut purba yang mati.
Di kejauhan, ledakan api oranye menyala di beberapa titik, kontras yang tajam (harsh contrast) dengan debu abu-abu dan langit yang gelap. Cahaya dari api itu memberikan rim light panas di sisi kiri wajah dan bahunya yang mengenakan rompi kanvas abu-abu muda yang sudah robek parah. Luka lecet kemerahan di bahu kirinya terasa perih tertiup angin yang membawa partikel logam.
Dunia ini tidak sekadar hancur. Dunia ini salah. Fisikanya telah dilanggar. Dan Elias adalah korban dari pelanggaran itu.
“Tahan… sedikit lagi…” Dia mencoba menarik tubuhnya ke atas, tapi otot punggungnya menolak bekerja sama. Dia hanya berayun sedikit, dan gerakan itu mengirimkan gelombang vertigo yang membuatnya mual. Kedalaman di bawahnya (vertigo effect) tidak terukur. Itu bukan sekadar jatuh; itu adalah jatuh ke dalam kehampaan yang terus berubah.
“Elias! Sektor 4, kau masih di sana? Jawab!”
Suara statis yang tajam di earpiece-nya hampir membuatnya melepaskan pegangan. Itu Kaelen. Mantan pilot drone tempur yang sekarang menjadi “mata” bagi para Scavenger seperti Elias.
“Aku… aku sedikit sibuk sekarang, Kael,” jawab Elias, suaranya terengah-engah. Dia menekan tombol transmisi di kerah rompinya dengan dagu.
“Sibuk apa? Kau seharusnya sudah di titik ekstraksi sepuluh menit yang lalu. Gelombang Gravitasi Kuantum berikutnya terdeteksi lima menit lagi. Kalau kau tidak bergerak sekarang, kau akan menjadi bagian dari skyline baru.”
“Aku tahu, sialan. Aku tahu,” Elias menggeram, mencoba mengabaikan rasa sakit di jarinya yang mulai mati rasa. “Jembatan penghubung di Sektor 5… runtuh. Aku harus mengambil jalan memutar lewat Ozymandias.”
“Ozymandias? Itu zona merah, Eli! Struktur di sana tidak stabil sejak Anomali Pertama.”
“Ya, aku menyadarinya sekarang,” Elias melihat ke sekeliling. Balok tempatnya bergantung mulai bergetar pelan. Bukan karena angin, tapi karena resonansi dari dalam struktur gedung itu sendiri.
“Dengar, Kael. Aku butuh rute keluar. Cepat. Posisi terakhirku di balkon lantai 88, sisi utara.”
Ada jeda statis. Kaelen sedang memproses data topografi kota yang terus berubah. “Oke, aku melihatmu di pemindai termal. Kau… menggantung? Serius?”
“Bukan pilihan pertamaku. Ada saran?”
“Tahan posisimu. Aku mengirim drone pengintai untuk menstabilkan struktur di dekatmu. Itu akan memberimu pijakan sementara. Tapi Eli, baterai drone itu tinggal 15%. Kau harus cepat.”
“Cepat adalah nama tengahku, Kael. Ngomong-ngomong, bagaimana kabar ‘paket’ itu?”
“Paket itu aman di bunker. Dan dia… rewel,” suara Kaelen terdengar sedikit frustrasi. “Dia terus bertanya kapan kau kembali. Dia bilang dia melihat ‘burung besi’ jatuh di mimpimu.”
Elias tersenyum miris. Paket itu bukan barang, melainkan seorang gadis kecil berusia delapan tahun bernama Aria. Seorang Anomalous Subject yang mereka selamatkan dari laboratorium korporat yang runtuh. Aria memiliki kemampuan prekognisi—dia bisa melihat serpihan masa depan yang belum terjadi, terutama yang berhubungan dengan bencana.
“Katakan padanya… burung besi itu tidak akan jatuh hari ini,” kata Elias, menatap tato di lengannya. Aria mirip Lyra. Sangat mirip.
“Eli, kau tahu kita tidak bisa terus begini,” suara Kaelen melembut, kehilangan nada komandonya. “Mencari artefak di zona bahaya, menghindari patroli milisi, dan sekarang… mengasuh anak di tengah kiamat? Kita bukan pahlawan.”
“Kita bukan pahlawan, Kael. Kita hanya orang yang menolak mati. Dan Aria… dia bukan sekadar anak. Dia mungkin satu-satunya kunci untuk memahami apa yang terjadi pada kota ini.”
“Atau dia adalah alasan kenapa kota ini hancur,” bantah Kaelen. “Korporasi tidak membangun fasilitas miliaran dolar hanya untuk menahan anak kecil biasa.”
“Cukup, Kael. Kirim drone itu. Waktuku habis.”
Balok baja tempat Elias bergantung berderit keras. Sebuah retakan muncul di beton tempat balok itu tertanam.
Drone pengintai Kaelen tiba dua menit kemudian. Bentuknya seperti laba-laba mekanis dengan empat baling-baling. Ia melayang di dekat Elias, menembakkan kabel jangkar ke dinding beton yang lebih stabil di sebelah kiri Elias, menciptakan pijakan sementara dari jaring logam.
“Pijakan terpasang. Itu hanya akan bertahan lima menit sebelum gravitasinya berubah,” lapor Kaelen.
Elias mengayunkan tubuhnya. Dengan sisa tenaga terakhir, dia melepaskan tangan kanannya dari balok baja dan melompat ke jaring logam. Dia mendarat dengan keras, napasnya memburu.
“Berhasil. Aku di jaring,” lapor Elias. Dia melihat tangan kanannya. Jari-jarinya kaku, gemetar tak terkendali. Tato wajah Lyra tampak berdenyut seiring detak jantungnya.
“Bagus. Sekarang, lihat ke arah jam tiga. Ada sisa tangga darurat yang mengarah ke atap gedung di sebelahnya. Itu rute teramanmu ke titik ekstraksi.”
Elias mendongak. Sekitar sepuluh meter di atasnya, ada sisa tangga besi yang menggantung miring dari gedung sebelah. Jaraknya terlalu jauh untuk dilompati.
“Terlalu jauh, Kael. Aku butuh bantuan.”
“Drone bisa membawamu sebagian jalan, tapi kau harus melompat di akhir. Dan Eli… Gelombang Gravitasi itu… data sensor menunjukkan anomali di dekat posisimu.”
“Maksudmu?”
“Maksudku, gravitasinya tidak hanya akan berubah. Itu akan… terdistorsi.”
Sebelum Kaelen selesai berbicara, Elias merasakannya.
Dunia tidak lagi miring. Dunia melengkung.
Pemandangan di depannya—gedung pencakar langit yang hancur, jembatan layang yang putus—mulai terlihat seperti dilihat melalui lensa fisheye yang ekstrem. Garis lurus menjadi kurva. Puing-puing yang melayang di udara mulai bergerak dalam pola spiral yang aneh.
“Eli! Lari! Sekarang!” teriak Kaelen.
Suara gemuruh rendah mulai terdengar, bukan dari angin, tapi dari dalam bumi—atau dari langit, Elias tidak yakin lagi.
Jaring logam tempatnya berpijak mulai bergetar. Gravitasi di sekitarnya menjadi kacau. Satu detik dia merasa sangat berat, detik berikutnya dia merasa seringan bulu.
Sebuah mobil rongsokan yang terparkir di sisa lantai beton di bawahnya tiba-tiba terangkat ke udara, berputar perlahan, lalu melesat ke atas seolah ditarik oleh magnet raksasa di langit.
“Kael! Apa yang terjadi?!”
“Itu Singularitas Lokal! Titik di mana gravitasi runtuh ke dalam dirinya sendiri. Jangan sampai tersedot!”
Anomali itu berada tepat di antara posisinya dan tangga darurat yang harus dia capai. Sebuah pusaran tak kasat mata yang menarik segalanya—debu, beton, logam—ke dalamnya.
Elias melihat ke arah tangga darurat. Itu satu-satunya jalan keluar. Tapi untuk mencapainya, dia harus melompat melewati singularitas itu.
“Drone! Bawa aku sedekat mungkin ke tangga!” perintah Elias.
“Tapi Eli, itu berisiko! Jika kau tertangkap di medan gravitasinya…”
“Lakukan saja, Kael!”
Drone laba-laba itu mendekat. Elias mencengkeram kakinya. Drone itu berjuang mengangkat beban tubuhnya, baling-balingnya menjerit melawan anomali gravitasi.
Mereka bergerak maju. Perlahan.
Elias bisa merasakan tarikan singularitas itu. Seperti tangan tak terlihat yang mencoba merobeknya dari drone. Jam tangannya berdetak semakin cepat, jarumnya berputar liar, dipengaruhi oleh distorsi waktu di sekitar anomali.
“Tiga meter lagi, Eli! Bersiap melompat!”
Di depannya, tangga darurat itu terlihat semakin dekat, tapi juga semakin terdistorsi. Besinya tampak meleleh dan melengkung.
“Sekarang, Eli! LOMPAT!”
Elias melepaskan pegangannya dari drone.
Dia melompat.
Untuk sesaat, dia melayang di antara dua dunia. Di sebelah kirinya, jaring logam yang aman. Di sebelah kanannya, tangga darurat yang menjadi tujuannya. Di antaranya, ketiadaan yang lapar.
Waktu seakan melambat (frozen in time). Dia bisa melihat setiap partikel debu dan serpihan kaca yang berputar di dalam singularitas. Dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri, keras dan jelas, mengalahkan suara gemuruh kota yang runtuh.
Dia melihat tato di lengannya. Wajah Lyra. Bertahanlah, Eli. Untuk Aria.
Gravitasi menariknya. Bukan ke bawah, tapi ke dalam.
Dia merasakan tubuhnya ditarik ke arah pusaran itu. Kakinya terasa berat, seolah ada jangkar yang mengikatnya. Dia merentangkan tangannya, berusaha menggapai tangga darurat itu dengan putus asa.
Jari-jarinya menyentuh logam dingin tangga itu.
Dapat.
Tapi tarikan singularitas itu semakin kuat. Jari-jarinya tergelincir.
“TIDAK!”
Elias berteriak, suaranya ditelan oleh suara gemuruh anomali. Dia mulai jatuh—atau lebih tepatnya, tersedot—ke arah pusat pusaran.
Saat itulah dia melihatnya.
Di tengah pusaran gravitasi itu, di titik di mana realitas tampaknya robek, ada kilatan cahaya. Bukan api oranye seperti di latar belakang. Ini adalah cahaya biru-putih yang dingin. Dan di dalam cahaya itu… dia melihat sesuatu.
Bukan sesuatu. Seseorang.
Siluet seorang wanita. Rambut panjangnya mengambang di sekitar kepalanya seperti halo. Dia tidak terlihat panik. Dia terlihat tenang. Dia menatap lurus ke arah Elias.
Lyra?
Tidak mungkin. Lyra sudah meninggal tiga tahun lalu, saat Anomali Pertama terjadi. Elias melihatnya sendiri tertimbun reruntuhan.
Tapi siluet itu… itu Lyra. Dan dia tersenyum. Senyum sedih yang Elias kenal dengan baik.
Wanita itu mengangkat tangannya, menunjuk ke arah Elias, lalu ke arah tangga darurat.
Sebuah dorongan.
Elias merasakannya. Bukan tarikan gravitasi, tapi dorongan fisik yang kuat di punggungnya, seolah ada tangan tak terlihat yang melemparkannya keluar dari pusaran.
Tubuhnya terpelanting ke depan, menjauh dari singularitas. Dia menabrak tangga darurat dengan keras.
BLAM!
Dia menghantam pagar besi dengan bahunya yang sudah terluka. Rasa sakitnya luar biasa, tapi dia tidak peduli. Dia hidup.
Dia mencengkeram pagar tangga itu dengan kedua tangannya, napasnya tersengal-sengal. Dia menoleh ke belakang.
Pusaran singularitas itu sudah hilang. Cahaya biru-putih itu lenyap. Yang tersisa hanya debu dan puing-puing yang kembali jatuh—atau naik—sesuai dengan gravitasi lokal yang kacau.
“Eli! Eli! Kau masih hidup?” suara Kaelen terdengar panik di earpiece.
Elias menatap ke tempat anomali itu tadi berada, lalu menatap tato di lengannya.
“Ya, Kael. Aku hidup,” bisiknya, suaranya bergetar. “Dan aku rasa… aku baru saja melihat hantu.”
Satu jam kemudian, Elias tiba di titik ekstraksi: sebuah atap gedung yang relatif stabil di pinggiran Sektor 4.
Kaelen sudah menunggunya di sana dengan hoversled—kendaraan anti-gravitasi rakitan yang mereka gunakan untuk transportasi. Kaelen, pria bertubuh kecil dengan kacamata tebal dan rompi penuh gadget, langsung berlari menghampiri Elias.
“Kau gila, Eli! Gila!” Kaelen memeriksa luka di bahu Elias. “Data telemetri drone menunjukkan kau seharusnya tersedot ke dalam singularitas itu. Bagaimana kau bisa lolos?”
Elias duduk di tepi atap, membiarkan Kaelen membersihkan lukanya. Dia menatap cakrawala kota yang rusak, di mana gedung-gedung masih melayang dalam formasi yang mustahil.
“Aku tidak tahu, Kael. Mungkin… keberuntungan.”
“Keberuntungan tidak membelokkan fisika kuantum, Eli. Ada sesuatu yang lain.”
Elias diam. Dia tidak bisa menjelaskan apa yang dilihatnya. Bayangan Lyra. Dorongan itu. Apakah itu halusinasi akibat kekurangan oksigen dan stres? Atau apakah Aria benar tentang “burung besi” yang tidak jadi jatuh?
“Bagaimana Aria?” tanya Elias, mengalihkan topik.
“Dia tidur. Setelah kau melompat, dia tiba-tiba tenang. Dia bilang… ‘Ibu menangkapnya’.”
Elias membeku. Dia menatap Kaelen.
“Ibu?”
Kaelen mengangguk pelan, ekspresinya serius. “Itu yang dia katakan. Eli… kau tahu kita menemukan Aria di dekat lokasi di mana Lyra… hilang. Apakah mungkin…?”
Elias memejamkan mata. Dia merasakan beban jam tangan kronograf di pergelangan tangannya. Detik demi detik. Waktu yang terus berjalan, meski dunianya telah berhenti tiga tahun lalu.
“Aku tidak tahu, Kael. Aku tidak tahu apa-apa lagi tentang kota ini.”
Elias berdiri, menepuk bahu Kaelen. “Ayo pulang. Aku harus melihat Aria.”
Mereka naik ke hoversled. Kendaraan itu mendesing pelan, mengangkat mereka dari atap gedung.
Saat mereka terbang menjauh, Elias menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Dia melihat gedung Ozymandias yang runtuh, tempat dia baru saja bertaruh nyawa. Di tengah kehancuran yang chaos itu, di antara api dan debu, dia melihat secercah harapan yang aneh.
Kota ini mungkin telah jatuh ke atas, membalikkan semua hukum alam. Tapi mungkin, hanya mungkin, di dalam pembalikan itu, ada hal-hal yang seharusnya hilang yang bisa kembali.
Dia menyentuh tato di lengannya.
Gravitasi mungkin telah hancur, tapi ada kekuatan lain yang masih mengikatnya pada dunia ini. Kekuatan yang lebih kuat dari singularitas mana pun.
Dia akan terus bertahan. Untuk Aria. Dan mungkin, untuk mencari jawaban atas apa yang baru saja menyelamatkannya.
🎨 CREATE THIS ART (Copy & Paste):
Ingin membuat visualisasi seperti dalam cerita ini? Silakan salin prompt di bawah ini dan gunakan di Gemini (Nano Banana).
[SCENE DESCRIPTION & ACTION]
Sebuah adegan aksi sinematik beresolusi tinggi yang menampilkan seorang pria sedang menggantung berjuang demi nyawanya di tepi reruntuhan gedung pencakar langit. Sudut kamera Dutch Angle (miring ekstrem) dan High Angle yang dramatis, menciptakan disorientasi gravitasi. Pria tersebut mencengkeram erat balok logam di bagian bawah frame (foreground) dengan tangan kanannya yang menjulur ke arah lensa (perspektif foreshortening ekstrem), sementara tubuhnya terayun ke belakang di atas jurang kehancuran kota.
[SUBJECT: KARAKTER & PENAMPILAN]
Subjek adalah pria Kaukasia berusia sekitar 30 tahunan.
Wajah: Ekspresi wajahnya menunjukkan kepanikan, ketegangan otot rahang, dan mulut terbuka seolah berteriak atau terengah-engah. Wajahnya kotor, tertutup debu abu-abu, keringat, dan noda darah kering (grit realism). Rambut model undercut pendek, berwarna cokelat gelap, sedikit berantakan tertiup angin kencang. Kulit memiliki tekstur pori-pori tajam, tidak mulus, ada bekas luka kecil dan noda oli/debu (Skin imperfections).
Tubuh & Pose: Tubuh miring secara diagonal (TIDAK SIMETRIS/CENTER). Otot lengan kanan menegang menahan berat tubuh.
Pakaian (Identik): Mengenakan kemeja atau rompi berbahan kain tebal/canvas berwarna abu-abu muda yang sangat kotor dan usang (weathered). Pakaian tersebut robek parah di bagian bahu kiri, memperlihatkan kulit dan luka lecet kemerahan di bawahnya.
Aksesoris Wajib: 1. Jam Tangan: Sebuah jam tangan analog kronograf dengan casing perak tebal dan tali hitam melingkar erat di pergelangan tangan kanan (tangan yang memegang tumpuan).
Tato: Terdapat tato hitam putih (greyscale) bergambar wajah wanita atau potret artistik pada lengan bawah bagian dalam tangan kanan.
[ENVIRONMENT: LATAR BELAKANG KIAMAT]
Latar belakang adalah pemandangan kota futuristik/modern yang hancur total dengan gaya “Inception-bending physics”.
Struktur Kota: Gedung-gedung pencakar langit terlihat runtuh, miring, dan terbalik secara vertikal di kejauhan. Puing-puing beton raksasa, kabel-kabel putus, dan kerangka baja memenuhi udara.
Chaos: Ada ledakan api oranye yang menyala di beberapa titik di background, menciptakan kontras warna antara api panas dan debu dingin. Asap hitam pekat membubung, partikel debu, dan serpihan kaca beterbangan di udara (frozen in time).
Depth: Background sangat dalam, memberikan kesan ketinggian yang memusingkan (vertigo effect).
[LIGHTING & ATMOSPHERE]
Pencahayaan: “Harsh Contrast” dengan “Cinematic Orange & Teal Grading”. Cahaya api dari latar belakang memberikan Rim Light oranye panas pada sisi kiri wajah dan bahu pria tersebut. Cahaya utama (Key Light) bersifat dramatis, mempertegas tekstur kulit dan kotoran. Bayangan (Shadows) dalam dan pekat (Deep Blacks).
Mood: Tegang, berbahaya, apokaliptik, penuh aksi, putus asa.
[TECHNICAL SPECS & CAMERA]
Kamera: Shot on 24mm wide-angle lens untuk menangkap skala kehancuran.
Fokus: Fokus tajam (Ultra-sharp focus) terkunci pada wajah dan tangan yang mencengkeram (foreground), dengan background yang sedikit bokeh namun tetap terdefinisi bentuk kehancurannya.
Texture: Raw photography aesthetic, high ISO noise, film grain, dirty lens texture, micro-details on skin and fabric.
Render Style: Photorealistic, 8K, Unreal Engine 5 style cinematic capture, matte painting level detail, Brutal realism.
–ar 9:16
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ruang Imajinasi Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ruang imajinasi — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Platform pembayaran digital global, PayPal, mengonfirmasi adanya insiden keamanan yang menyebabkan kebocoran data pribadi ratusan pengguna. Sejumlah akun dilaporkan terdampak...
Perusahaan teknologi global Cisco memperkenalkan chip switching terbaru bernama Silicon One G300 serta inovasi operasional berbasis AI yang disebut AgenticOps....