Kehadiran media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak dan remaja. Namun di balik kemudahan akses informasi, muncul kekhawatiran baru terkait dampaknya terhadap kemampuan dasar, terutama literasi.
Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kebiasaan terlalu sering scroll media sosial dapat berdampak negatif pada kemampuan membaca dan perkembangan kosa kata anak. Berdasarkan data dari Journal of Research on Adolescence, terdapat korelasi kuat antara intensitas penggunaan media sosial dengan penurunan kemampuan literasi pada anak dan remaja.
Penelitian tersebut dilakukan dalam jangka waktu empat tahun dengan memantau perkembangan remaja. Hasilnya menunjukkan bahwa paparan konten digital secara terus-menerus dapat mengikis kemampuan bahasa dasar secara perlahan.
Anak-anak di bawah usia 16 tahun yang rutin membuka media sosial cenderung mengalami kesulitan dalam mengenali dan mengucapkan kata secara utuh. Selain itu, kemampuan membaca mereka juga mengalami hambatan dibandingkan dengan anak yang lebih jarang terpapar media sosial.
Para peneliti menyebut fenomena ini sebagai gangguan pada crystallized abilities, yaitu kemampuan berbasis pengetahuan seperti kosa kata dan tata bahasa yang seharusnya berkembang pesat di usia tersebut.
Faktor Penyebab Menurunnya Literasi Anak
Ada dua faktor utama yang menjadi pemicu penurunan kemampuan membaca akibat media sosial.
Pertama adalah pergeseran waktu alami. Anak yang lebih banyak menghabiskan waktu di media sosial cenderung kehilangan kesempatan untuk membaca buku, berdiskusi langsung, atau memahami teks panjang yang lebih kompleks.
Kedua adalah paparan bahasa alternatif. Konten di media sosial sering menggunakan singkatan, bahasa gaul, dan struktur kalimat yang tidak sesuai kaidah. Hal ini memengaruhi cara anak memahami dan menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari.
Meski begitu, penelitian ini juga menemukan sisi positif. Anak yang terbiasa menggunakan media sosial memiliki kemampuan pemrosesan informasi yang lebih cepat. Mereka cenderung lebih tanggap terhadap berbagai jenis informasi yang muncul secara cepat di layar.
Namun kemampuan tersebut tidak selalu sejalan dengan pemahaman bacaan yang mendalam. Tanpa kemampuan literasi yang baik, anak tetap akan kesulitan memahami teks kompleks di dunia nyata.
Merespons temuan ini, peneliti menyarankan agar orangtua tidak serta-merta melarang penggunaan media sosial. Pendekatan yang lebih efektif adalah dengan membatasi dan mengatur penggunaan secara bijak.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain menetapkan batas waktu penggunaan gadget setiap hari, mendorong anak untuk membaca buku secara rutin, serta memperkenalkan mereka pada konten dengan bahasa yang lebih terstruktur.
Selain itu, orangtua juga disarankan untuk aktif mengajak anak berdiskusi agar mereka terbiasa memahami dan mengucapkan kata dengan benar.
Referensi:
KompasTekno