Gerhana Matahari Total Agustus 2026, Ini Wilayah yang Bisa Melihatnya
Gerhana Matahari total akan menghiasi langit pada Rabu, 12 Agustus 2026. Fenomena astronomi ini dapat diamati dari sejumlah wilayah di...
Read more
Gempa bumi susulan masih terus mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur, setelah gempa utama berkekuatan M7,7 pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Hingga Sabtu, 22 Agustus 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG mencatat sebanyak 5.012 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB.
Dari ribuan gempa tersebut, 31 gempa memiliki magnitudo di atas 5, sementara 124 gempa dirasakan oleh masyarakat. Magnitudo gempa susulan yang tercatat paling kecil mencapai 1,1, sedangkan yang terbesar mencapai M6,2.
Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas seismik di wilayah Flores masih cukup tinggi. Namun, kemunculan ribuan gempa susulan setelah gempa besar sebenarnya merupakan bagian dari proses alami yang terjadi pada kerak bumi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia, Daryono, menjelaskan bahwa gempa susulan terjadi karena batuan di sekitar bidang patahan masih berusaha mencapai kondisi keseimbangan baru setelah mengalami pergeseran besar.
Gempa utama terjadi ketika energi yang tersimpan pada batuan dan patahan sudah melampaui batas elastisitasnya. Ketika batas tersebut terlampaui, batuan dapat patah dan bergeser secara tiba-tiba sehingga menghasilkan getaran besar.
Masalahnya, proses tersebut tidak langsung membuat seluruh bidang patahan menjadi stabil. Setelah terjadi pergeseran besar, masih terdapat bagian batuan di sekitarnya yang mengalami tegangan.
“Gempa susulan pada hakikatnya adalah penyesuaian mekanis mikro saat batuan di sekitar bidang patahan tersebut bergeser perlahan untuk mencari posisi kestabilan baru,” kata Daryono.
Dengan kata lain, gempa susulan bukan berarti ada gempa utama baru yang terus menerus terjadi. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari proses penyesuaian batuan setelah menerima perubahan tekanan akibat gempa utama.
Berdasarkan penjelasan Daryono, pola tersebut dikenal dalam ilmu kegempaan melalui Hukum Omori-Utsu. Hukum ini menjelaskan bahwa frekuensi gempa susulan umumnya akan berkurang seiring berjalannya waktu.
Karena itu, jumlah gempa susulan biasanya paling tinggi pada periode awal setelah gempa utama. Setelah itu, frekuensinya perlahan mengalami penurunan, meskipun beberapa gempa susulan masih dapat memiliki magnitudo cukup besar.
BMKG sendiri sebelumnya mencatat aktivitas susulan yang terus berkembang setelah gempa M7,7 Flores. Pada 19 Agustus 2026, misalnya, jumlah gempa susulan telah mencapai 2.768 kejadian dengan magnitudo antara M1,1 hingga M6,2. Sebanyak 24 gempa memiliki magnitudo di atas M5 dan 81 gempa dirasakan masyarakat.
Menurut BMKG, gempa utama terjadi pada 15 Agustus 2026 pukul 04.58 WIB. Hasil pemutakhiran parameter menunjukkan magnitudo M7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Episenternya berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Gempa tersebut berkaitan dengan aktivitas tektonik di Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault.
Dari sisi geologi, pergeseran pada gempa utama juga dapat mengubah distribusi tekanan di sekitar patahan. Sebagian tegangan yang sebelumnya terkonsentrasi pada satu wilayah dapat berpindah ke batuan di sekitarnya.
Daryono menjelaskan bahwa kondisi tersebut dikenal sebagai Coulomb stress change. Perubahan tegangan inilah yang kemudian dapat memicu pergeseran pada bagian patahan yang berada di sekitar lokasi gempa utama.
“Pelepasan tekanan masif tersebut justru memindahkan sebagian tegangan sisa (Coulomb stress) ke area batuan di sekitarnya,” ujarnya.
Fenomena ini menjelaskan mengapa gempa susulan dapat terjadi berulang kali meskipun energi besar dari gempa utama sudah dilepaskan.
Gempa susulan umumnya memiliki magnitudo lebih kecil dibandingkan gempa utama. Namun, hal tersebut bukan berarti seluruh gempa susulan aman untuk diabaikan.
Bangunan yang sudah mengalami kerusakan akibat gempa utama dapat menjadi lebih rentan ketika kembali diguncang. Bahkan gempa dengan magnitudo yang lebih rendah tetap dapat menyebabkan kerusakan tambahan apabila struktur bangunan sebelumnya sudah melemah.
Dalam ilmu kegempaan terdapat Hukum Bath, yang menyatakan bahwa gempa susulan terbesar umumnya memiliki magnitudo sekitar 1,2 tingkat lebih kecil dibandingkan gempa utama. Meski demikian, nilai tersebut merupakan pola statistik dan bukan kepastian bahwa semua rangkaian gempa akan mengikuti angka tersebut secara persis.
Daryono juga menjelaskan bahwa istilah foreshock, mainshock, dan aftershock ditentukan berdasarkan hubungan waktu, lokasi, serta magnitudo dalam satu rangkaian gempa.
Menariknya, status sebuah gempa bisa berubah setelah rangkaian kejadian berikutnya. Gempa yang awalnya dianggap sebagai gempa utama dapat kemudian disebut foreshock jika ternyata muncul gempa yang lebih besar di kawasan patahan yang sama.
“Penentuan status ini selalu bersifat retrospektif atau hanya bisa dipastikan setelah peristiwa berlalu,” kata Daryono.
Untuk menentukan apakah sebuah gempa termasuk aftershock, para ahli melihat sejumlah parameter. Salah satunya adalah lokasi gempa yang masih berada di sekitar zona patahan gempa utama serta pola kemunculannya yang sesuai dengan proses peluruhan aktivitas gempa.
Aktivitas susulan juga diperkirakan belum langsung berhenti dalam waktu dekat. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto sebelumnya mengatakan berdasarkan data sementara, gempa susulan di Flores diperkirakan masih berlangsung selama sekitar 3 hingga 4 pekan setelah gempa utama.
Karena itu, masyarakat di wilayah terdampak tetap diminta waspada, terutama terhadap bangunan yang sudah mengalami kerusakan. BMKG juga terus memantau perkembangan aktivitas gempa dan menyampaikan informasi terbaru berdasarkan hasil pengamatan.
Gempa M7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus juga sempat memicu peringatan dini tsunami. BMKG menyatakan gempa tersebut berpotensi tsunami karena terjadi di laut dan berkaitan dengan mekanisme sesar naik. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri setelah hasil pemantauan menunjukkan kondisi muka air laut tidak lagi membahayakan.
Kawasan Nusa Tenggara sendiri memang termasuk wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi. Struktur Flores Back-Arc Thrust menjadi salah satu sumber aktivitas gempa di kawasan tersebut. Analisis geologi juga menunjukkan bahwa pergerakan sesar naik di dasar laut dapat menyebabkan perubahan vertikal dasar laut yang dalam kondisi tertentu berpotensi memicu tsunami.
Referensi:
CNN Indonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Sains Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia sains — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Menurunkan berat badan tidak selalu harus dilakukan dengan diet ekstrem atau mengikuti tren yang sulit dipertahankan. Sejumlah kebiasaan sederhana dalam...
Paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk akibat kebakaran hutan dan lahan, dapat membuat saluran pernapasan terasa tidak nyaman. Batuk,...