Rekaman Terlarang dari Atas Panggung Balet
Bagian Satu: Kilatan Paku di Balik Kain Satin Aku masih bisa mendengar bunyi detak jam dinding yang berkarat di ruang...
Read more
Malam itu pukul dua dini hari, dan lorong lantai empat bangunan rumah sakit tua ini terasa berkali-kali lipat lebih dingin dari biasanya. Aku baru saja menyelesaikan giliran jaga malam di ruang administrasi dan bersiap untuk pulang. Kakiku melangkah berat menyusuri lantai tegel putih yang sebagian sudah retak, menuju satu-satunya lift yang masih beroperasi di sayap timur.
Sebagai karyawan baru, aku sudah sering mendengar selentingan tidak enak tentang rumah sakit ini. Senior-senior di bagian keperawatan selalu mengingatkan sebuah aturan tidak tertulis yang terdengar konyol di telingaku. Jangan pernah menggunakan lift sayap timur sendirian setelah lewat tengah malam.
“Jika terpaksa naik, perhatikan pergelangan tangan siapa pun yang masuk bersamamu,” kata salah satu senior suatu hari dengan wajah teramat serius.
Aku menekan tombol turun pada panel lift. Bunyi dentingan logam yang menggema di lorong sunyi itu membuat bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Pintu lift terbuka perlahan dengan suara berdecit yang memilukan telinga. Di dalam ruangan sempit berkulit metal itu, ternyata sudah ada seorang wanita yang berdiri membelakangiku.
Dia mengenakan gaun rumah sakit berwarna putih kusam, rambutnya hitam panjang terurai acak-acakan. Aku menghela napas lega karena merasa tidak sendirian di tempat mencekam ini. Aku melangkah masuk dan menekan tombol menuju lantai dasar. Pintu lift menutup kembali dengan lambat, mengunci kami berdua di dalam ruang kubus yang pengap.
Lift bergerak turun dengan sentakan kasar yang membuat jantungku berdegup kencang. Suasana di dalam lift mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan deru mesin lift yang tua. Bau antiseptik yang menyengat tiba-tiba berganti dengan aroma anyir yang samar namun menusuk hidung.
Aku mencoba mengalihkan pandangan dari wanita di sebelahku, namun rasa penasaran yang dipicu oleh kepanikan psikologis membuat mataku melirik ke bawah. Wanita itu perlahan menggeser posisinya, membuat tangan kirinya yang semula tersembunyi kini terlihat jelas di bawah sorot lampu lift yang berkedip-kedip.
Jantungku rasanya berhenti berdetak seketika saat melihat sebuah benda melingkar di pergelangan tangannya. Itu adalah gelang merah.
Pikiran my langsung berputar liar mengingat penjelasan sistem administrasi pasien yang baru kupelajari minggu lalu. Di rumah sakit ini, setiap pasien hidup yang dirawat akan dipasangkan gelang berwarna putih. Sementara itu, gelang merah hanya digunakan untuk satu hal: diikatkan pada pergelangan tangan pasien yang sudah meninggal dunia agar tidak tertukar di kamar mayat.
Keringat dingin mulai membasahi seluruh punggungku, sensasi diawasi dengan intens membuat tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Wanita di sampingku tiba-tiba memutar kepalanya ke arahku dengan gerakan yang patah-patah. Wajahnya pucat pasi, matanya hitam legam tanpa ada bagian putih sama sekali.
“Kamu sedang mencari ini?” bisiknya dengan suara yang terdengar seperti gesekan amplas pada kayu kering, sambil mengangkat pergelangan tangannya yang berhiaskan gelang merah tepat di depan wajahku.
Lift mendadak berguncang hebat dan lampu utama mati total, menyisakan kegelapan pekat yang mencekam. Aku berteriak histeris, menggedor-gedor pintu lift dengan panik saat merasakan hembusan napas yang teramat dingin tepat di belakang telingaku. Ketika pintu lift akhirnya terbuka paksa di lantai dasar beberapa menit kemudian oleh petugas keamanan, lift itu kosong. Aku terbangun di ruang penanganan darurat dengan tanda memar berbentuk cengkeraman tangan di pergelangan tangan kiriku, dan sebuah gelang merah kini melingkar erat di sana, tidak bisa dilepaskan.
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Misteri Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia misteri — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Bagian Satu: Kilatan Paku di Balik Kain Satin Aku masih bisa mendengar bunyi detak jam dinding yang berkarat di ruang...
Bingkisan Tanpa Nama di Kotak Pos Semua bermula pada akhir pekan yang membosankan ketika sebuah paket plastik hitam tergeletak di...