Risiko Besar di Balik Ambisi Kecerdasan Buatan Raksasa Teknologi

Lonjakan belanja AI oleh raksasa teknologi mulai memicu kekhawatiran investor Wall Street terkait profit, valuasi saham, dan masa depan bisnis cloud. (Foto: ThisIsEngineering/pexels.com)
Lonjakan belanja AI oleh raksasa teknologi mulai memicu kekhawatiran investor Wall Street terkait profit, valuasi saham, dan masa depan bisnis cloud. (Foto: ThisIsEngineering/pexels.com)

Lonjakan belanja AI oleh raksasa teknologi mulai memicu kekhawatiran investor Wall Street terkait profit, valuasi saham, dan masa depan bisnis cloud

Kegairahan pasar terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menunjukkan sisi gelapnya. Di tengah euforia inovasi dan janji pertumbuhan jangka panjang, investor Wall Street justru dilanda kecemasan baru setelah laporan kinerja sejumlah raksasa teknologi Amerika Serikat.

Perhatian utama tertuju pada Microsoft Corp. Berdasarkan laporan kinerja terbarunya, pertumbuhan bisnis komputasi awan Azure tercatat stagnan, sementara belanja modal perusahaan diperkirakan melampaui US$100 miliar (sekitar Rp1.678 triliun) tahun ini. Angka tersebut sebagian besar dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur AI.

Menurut Josh Chastant, manajer portofolio investasi publik di GuideStone Funds, kondisi ini menjadi ujian berat bagi valuasi saham teknologi. “Dalam sebuah kenormalan kinerja keuangan, hasil ini cukup baik, tetapi dalam konteks skala pengeluaran yang besar, dengan harga yang sudah diperhitungkan untuk kesempurnaan, Anda benar-benar harus mencapai target Anda,” kata Chastant.

Pasar merespons cepat. Saham Microsoft anjlok hingga 10 persen dan terus tertekan pada perdagangan berikutnya. Dalam dua sesi, nilai pasar perusahaan terpangkas US$381 miliar, menjadikan pekan tersebut sebagai yang terburuk bagi Microsoft sejak Maret 2020.

Tekanan Serupa Menimpa Meta dan Big Tech Lain

Tekanan akibat belanja AI tidak hanya dialami Microsoft. Meta Platforms Inc., induk Facebook dan Instagram, sempat mencatat lonjakan saham 10 persen setelah memproyeksikan pertumbuhan pendapatan kuartalan tercepat dalam lebih dari empat tahun. Namun optimisme itu cepat memudar.

Meta mengumumkan rencana peningkatan belanja modal hingga 87 persen pada 2026, sebagian besar untuk pengembangan AI. Akibatnya, saham perusahaan justru turun 3 persen pada hari berikutnya, menjadi hari terburuk sejak akhir Oktober.

Fenomena ini mencerminkan dilema besar raksasa teknologi. Investor masih bersedia mentolerir belanja besar selama didukung pertumbuhan yang sepadan. Namun, ketika pertumbuhan melambat, pasar tak segan memberikan hukuman.

Menurut Chastant, era saat ini menuntut pembuktian nyata. “Kita berada dalam era di mana monetisasi belanja modal kecerdasan buatan harus terwujud agar valuasi saham teknologi menjadi wajar,” ujarnya. GuideStone Funds sendiri mengelola aset sekitar US$24 miliar.

Fokus pasar kini beralih ke laporan keuangan Alphabet Inc. dan Amazon.com Inc., dua perusahaan dengan belanja AI terbesar. Berdasarkan data yang dikumpulkan Bloomberg, Microsoft dan Meta saja diperkirakan akan menghabiskan lebih dari US$500 miliar secara gabungan untuk belanja modal tahun ini, mayoritas untuk infrastruktur AI.

Valuasi Tinggi dan Risiko Ekspektasi

Harapan besar disematkan pada Alphabet, induk Google, yang menjadi saham dengan kinerja terbaik di kelompok Magnificent Seven dalam enam bulan terakhir dengan kenaikan lebih dari 70 persen. Kinerja tersebut ditopang oleh kesuksesan model AI Gemini dan antusiasme terhadap prosesor AI buatan sendiri.

Namun, dengan rasio harga terhadap laba diperkirakan melampaui 28 kali, saham Alphabet kini diperdagangkan di level tertinggi dalam hampir dua dekade. Kondisi ini membuat ruang kesalahan semakin sempit.

Amazon juga berada di bawah sorotan. Meski Amazon Web Services mencatat pertumbuhan terkuat dalam hampir tiga tahun, investor menuntut kesinambungan hasil tersebut. Menurut Peter Corey, pendiri dan kepala strategi pasar di Pave Finance, ekspektasi pasar bisa berubah cepat. “Tidak semua peningkatan pertumbuhan akan tercapai. Dalam jangka panjang, ekspektasi bisa benar-benar tertekan,” kata Corey.

Tanda-tanda kehati-hatian mulai terlihat. Indeks Magnificent Seven turun 1,5 persen sejak mencapai rekor tiga bulan lalu, sementara S and P 500 justru naik 0,7 persen. Saham Oracle Corp. bahkan anjlok 50 persen sejak puncaknya, setelah sebelumnya melonjak tajam karena euforia cloud dan AI.

Menurut Bob Savage, Kepala Strategi Makro Pasar di BNY, kekhawatiran terbesar investor adalah ketimpangan antara belanja dan hasil. “Yang sebenarnya kami khawatirkan adalah lebih dari satu perusahaan menghabiskan jauh lebih banyak belanja modal dan mendapatkan hasil yang jauh lebih sedikit,” katanya.

Data Barclays menunjukkan sektor teknologi menjadi sektor yang paling sedikit dimiliki manajer investasi aktif pada akhir kuartal ketiga. Sementara itu, hedge fund juga tercatat terus melepas saham teknologi, menurut data prime brokerage Goldman Sachs.

Referensi:
Bloomberg Technoz

📚 ️Baca Juga Seputar IT

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita IT Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia it — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED