Akses Tol Slipi Ditutup Sementara Imbas Demo Buruh May Day di DPR
Akses keluar Tol Slipi pada KM 09+650 Ruas Tol Dalam Kota arah Grogol ditutup sementara pada Jumat siang. Penutupan ini...
Read more
Perdebatan mengenai siapa pewaris takhta Keraton Surakarta Hadiningrat kembali memanas pada 2025, menyusul wafatnya Pakubuwono XIII. Di tengah silang pendapat tersebut, pertanyaan mengenai perbedaan Solo dan Surakarta kembali mencuat di ruang publik. Walaupun kedua sebutan itu merujuk pada wilayah yang sama, keduanya memiliki sejarah panjang yang membentuk identitas Kota Bengawan.
Secara administratif, nama resmi kota adalah Surakarta. Namun nama Solo jauh lebih populer digunakan masyarakat sehari-hari, sektor bisnis, hingga pariwisata. Menurut Akademisi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret Surakarta, Prof Warto, pemakaian dua nama tersebut tidak bisa dilepaskan dari pengaruh kolonial Belanda dan dinamika politik sesudah perang internal Mataram.
Berdasarkan penjelasan Prof Warto dalam publikasi Universitas Sebelas Maret pada 2021, daerah itu awalnya bernama Sala, yaitu sebuah desa perdikan yang dipimpin Ki Gede Sala. Desa tersebut terletak di tepi Sungai Bengawan Solo. Ketika Belanda masuk ke Jawa dan memperluas hegemoni kolonial, pelafalan Sala berubah menjadi Solo karena bangsa Belanda dianggap sulit melafalkan huruf a dalam bahasa Jawa.
“Dengan huruf a. Ingat huruf Jawa o dan a punya perbedaan yang sangat penting. Kalau Sala ditulis dengan huruf Jawa nglegena atau telanjang. Kalau di-taling-tarung jadi o makanya So-lo gitu. Dan alasannya Sala jadi Solo, karena orang Belanda susah ngomong Sala,” kata Prof Warto dalam penjelasan UNS.
Seiring berjalannya waktu, perubahan dari Sala menjadi pusat kerajaan terjadi pascapemberontakan besar yang dikenal sebagai Geger Pecinan pada 1743. Pemberontakan itu melibatkan elemen etnis Tionghoa dan Jawa yang dipimpin Raden Mas Garendi atau Sunan Kuning, sepupu Pakubuwono II. Ia melawan VOC karena menilai pakubuwono terlalu berpihak pada kolonial dan melupakan kesepakatan untuk menyatukan rakyat melawan penjajah.
Walaupun Keraton Kartasura berhasil direbut kembali, berdasarkan catatan sejarah, Pakubuwono II menilai lokasi keraton sudah kehilangan kesuciannya. Dengan pertimbangan Tumenggung Hanggawangsa, Tumenggung Mangkuyudha, dan JAB van Hohendorff, keraton dipindah ke Desa Sala. Sejak berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat, nama Surakarta kemudian menjadi identitas kerajaan baru.
Menurut publikasi hasil kajian sejarah UNS, Surakarta adalah nama kerajaan yang dipakai ketika Keraton Kartasura resmi pindah ke Desa Sala, sementara Solo tetap menjadi penyebutan populer di kalangan masyarakat.
Konflik perebutan takhta kembali memuncak setelah Pakubuwono II wafat pada 1749. Menurut arsip sejarah dan laporan Antara yang dikutip ulang pada 2025, VOC ikut campur dalam suksesi dan menunjuk RM Soerjadi sebagai Pakubuwono III, walaupun sebelumnya Pangeran Mangkubumi telah memproklamasikan diri sebagai raja. Perselisihan itu berkembang menjadi perang saudara antara kelompok Pakubuwono III yang didukung VOC melawan koalisi Mangkubumi dan Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa.
VOC kemudian memecah koalisi tersebut dengan menawarkan separuh wilayah Mataram kepada Mangkubumi pada 1752. Kesepakatan itu melahirkan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang secara resmi membagi Kerajaan Mataram menjadi dua bagian. Kasunanan Surakarta dipimpin Pakubuwono III di wilayah timur Sungai Opak, sementara Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dipimpin Sultan Hamengkubuwono I di wilayah barat Sungai Opak.
Dalam perkembangan modern, muncul kawasan baru yang dikenal sebagai Solo Baru. Berdasarkan laporan detikJateng, Solo Baru berada di wilayah Kabupaten Sukoharjo tepatnya Kecamatan Grogol. Kawasan itu menjadi area pertumbuhan bisnis dan permukiman modern di perbatasan Kota Solo, dengan landmark berupa patung Ir Soekarno dan gapura Tanjung Anom.
Pada 2025, perebutan takhta kembali terjadi. Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegoro Sudibyo Rajaputra Narendra Mataram atau Gusti Purbaya menyatakan diri sebagai Pakubuwono XIV dan dilantik pada Sabtu 15 November.
Sementara itu saudaranya, KGPH Mangkubumi, putra tertua Pakubuwono XIII, juga menyatakan dirinya sebagai SISKS Pakubuwono XIV berdasarkan hasil pertemuan keluarga keraton yang difasilitasi Panembahan Agung Tedjowulan pada Kamis 13 November.
Wali Kota Surakarta Respati Ardi menegaskan bahwa pemerintah menghormati urusan internal keraton dan memastikan ketertiban masyarakat tetap terjaga. “Semua ada aturannya. Kalau ada warga yang beda pendapat, ya diselesaikan dengan baik, kita serahkan pada mekanisme yang berlaku,” kata Respati.
Referensi:
CNNIndonesia
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Nasional Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia nasional — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Kabel charger sering kali menjadi perangkat yang kurang mendapat perhatian dalam penggunaan sehari-hari. Padahal, fungsinya sangat penting untuk menjaga daya...
Banyak pengguna mengira bahwa saat HP Android mulai lemot, satu-satunya solusi adalah mengganti perangkat baru. Padahal, anggapan tersebut tidak sepenuhnya...