Kovenan Merah: Di Antara Dosa Daging dan Keabadian yang Terkuliti

BAB 1: LITURGI DAGING DAN CAHAYA

Udara di dalam Katedral Tungku terasa tebal, bukan hanya oleh debu logam yang telah mengendap selama berabad-abad, tetapi juga oleh aroma tembaga yang tajam—bau darah segar yang teroksidasi oleh panas industri. Di sini, di jantung Sektor Zero yang terlupakan, gravitasi terasa lebih berat, menekan pundak Kaelen yang sudah lelah.

Dia tidak membuka matanya. Dia tidak berani.

Kesadarannya menyempit pada titik kontak di sisi kiri wajahnya. Sentuhan itu dingin pada awalnya, sebuah kejutan yang membekukan di tengah panasnya ruangan yang menyesakkan, sebelum berubah menjadi kehangatan yang basah dan lengket. Itu bukan sentuhan kulit bertemu kulit. Tidak ada epidermis yang halus, tidak ada pori-pori yang bernapas. Itu adalah sentuhan daging mentah yang telanjang.

Jemari—jika jalinan otot yang panjang itu bisa disebut demikian—menempel di rahang dan pipinya. Kaelen bisa merasakan tekstur yang sangat spesifik dari serat-serat otot yang meliuk, basah oleh cairan viseral yang kental. Cairan itu meresap ke dalam janggut pendeknya yang kasar, menempel pada kulitnya yang berkeringat, menciptakan jembatan antara kemanusiaannya yang rapuh dan sesuatu yang purba di hadapannya.

Dia bisa merasakan jemari itu menekan, bukan dengan kekerasan, melainkan dengan ketegasan yang posesif. Kulit pipinya melekuk ke dalam di bawah tekanan itu. Itu adalah sentuhan seorang pematung yang sedang memeriksa tanah liatnya, atau mungkin, seorang tukang daging yang menilai potongan terbaiknya.

Napas Kaelen tertahan di tenggorokan, terperangkap antara ketakutan yang melumpuhkan dan gelombang ekstasi yang aneh dan menjijikkan. Alisnya sedikit berkerut menahan intensitas sensasi itu, namun rahangnya tetap rileks, dagunya sedikit terangkat dalam gestur penyerahan total. Dia telah melewati titik di mana dia bisa lari. Dia telah datang mencari ini.

Cahaya di ruangan itu adalah kekerasan visual. Sebuah backlight merah darah yang intens, bersumber dari tungku reaktor kuno yang menyala kembali di kejauhan, memandikan mereka berdua. Cahaya itu tidak menerangi; ia menghakimi. Ia menciptakan bayangan hitam pekat di sisi kanan wajah Kaelen, menyembunyikan separuh dirinya dalam kegelapan, sementara sisi kirinya diekspos secara brutal.

Cahaya merah itu menangkap permukaan makhluk di hadapannya, membuat basah tubuhnya yang terkuliti bersinar. Setiap urat yang menonjol, setiap lapisan fasia yang transparan, setiap simpul otot merah yang berdenyut lambat, semuanya memantulkan cahaya itu seperti permata basah yang mengerikan. Makhluk itu tidak memiliki wajah dalam pengertian manusia; kepalanya adalah tengkorak yang dilapisi daging basah, tanpa hidung, dengan rongga mata yang gelap dan dalam, menatap—atau mungkin merasakan—ke dalam jiwa Kaelen.

Di udara di sekitar mereka, partikel debu dan bara api mikroskopis melayang-layang, tertangkap oleh cahaya merah, tampak seperti konfeti dari neraka yang sedang merayakan penyatuan yang tidak suci ini. Kaelen, dengan kerutan halus di sudut matanya yang tertutup rapat dan keringat yang mengilap di pori-pori kulitnya, menyerahkan dirinya pada “Yang Terkuliti”.

Inilah Kovenan Merah. Saat di mana doa tidak lagi diucapkan dengan kata-kata, melainkan dengan kontak fisik yang paling tabu.


BAB 2: GEMA DI LUAR GERBANG

“Kau tahu ini bukan keselamatan, Kael. Ini hanya bentuk lain dari bunuh diri.”

Suara itu, serak dan penuh dengan kelelahan yang sama yang dirasakan Kaelen, bergema dalam ingatannya. Itu adalah Elara, tiga jam yang lalu, berdiri di ambang pintu masuk Sektor Zero yang dilarang. Angin beracun dari padang gurun karat meniup rambutnya yang dipotong pendek, menempelkan pasir pada kacamata pelindungnya.

Kaelen berhenti sejenak saat itu, tangannya mencengkeram kusen pintu logam yang bergerigi. Dia tidak menoleh ke belakang. Punggungnya, yang dibalut atasan hitam ketat yang menyerap sedikit cahaya yang ada, menegang.

“Lihat aku, El,” bisik Kaelen, suaranya hampir hilang ditelan angin. Dia mengangkat lengannya, menunjukkan bercak-bercak abu-abu di kulitnya—tanda The Wasting, penyakit degeneratif yang perlahan mengubah penduduk Aethelgard menjadi debu hidup. “Aku sudah mati. Setiap hari, satu bagian dari diriku berhenti berfungsi. Paru-paruku terasa seperti diisi serbuk kaca. Jantungku berdetak dengan ritme yang salah.”

Langkah kaki Elara mendekat, sepatu bot beratnya menghantam lantai logam berongga. Dia mencengkeram bahu Kaelen, memaksanya untuk berbalik sedikit. Mata Elara, satu-satunya bagian dari wajahnya yang bersih dari kotoran industri, menatapnya dengan campuran kemarahan dan kesedihan yang mendalam.

“Jadi kau akan menyerahkan sisa hidupmu pada dongeng? Pada monster yang tidur di bawah kota?” Elara mendesis. “Mereka menyebutnya Malphas, Sang Martir Merah. Itu bukan tuhan, Kaelen. Itu adalah sisa-sisa bioteknologi dari Perang Pendahulu yang sudah gila. Ia tidak akan menyembuhkanmu. Ia akan memanenmu.”

“Mungkin itu yang kubutuhkan,” jawab Kaelen, menatap melewati Elara ke arah cakrawala yang gelap, tempat cerobong asap raksasa menjulang seperti jari-jari mayat yang mencoba menggapai langit. “Setidaknya itu nyata. Rasa sakitnya nyata. Tidak seperti kematian perlahan dan hampa di atas sana, di permukiman.”

Elara melepaskan cengkeramannya, tangannya jatuh ke samping tubuhnya di mana sarung pistol paku tersampir. Sebagai pemulung teknologi, dia adalah seorang realis. Dia percaya pada apa yang bisa dia bongkar, perbaiki, dan jual. Dia tidak percaya pada kovenan darah.

“Aku tidak bisa melihatmu melakukan ini,” suaranya melembut, retak. “Kita sudah bertahan selama lima tahun di reruntuhan ini. Hanya kita berdua. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini, Kael.”

Itu adalah pengakuan terdekat yang pernah mereka bagikan tentang apa arti mereka bagi satu sama lain di dunia yang tanpa harapan ini. Dan itu hampir—hampir saja—cukup untuk membuat Kaelen berbalik.

Tapi kemudian, rasa sakit di dadanya kembali, sebuah tusukan tajam yang membuatnya terbatuk kering. Rasa besi memenuhi mulutnya.

“Maafkan aku, El,” Kaelen berbalik lagi, melangkah masuk ke dalam kegelapan koridor yang menuju ke bawah. “Jika aku kembali… mungkin aku tidak akan menjadi diriku lagi. Jika aku tidak kembali, ambil semua jatah airku.”

“Kaelen!” teriak Elara.

Dia terus berjalan, meninggalkan satu-satunya manusia yang peduli padanya, menuju cahaya merah yang berdenyut di kedalaman bumi.


BAB 3: INVASI KESADARAN

Kembali di Katedral Tungku, di masa kini yang membeku.

Sentuhan basah di wajahnya bukan lagi sekadar sensasi fisik. Itu adalah pintu gerbang.

Ketika Malphas, entitas yang terkuliti itu, menekan lebih dalam ke daging pipinya, Kaelen merasakan intrusi yang bukan bersifat fisik. Itu dimulai sebagai dengungan di dasar tengkoraknya, sebuah frekuensi rendah yang menggetarkan giginya. Kemudian, datanglah gambaran-gambaran itu.

Mereka bukan memori Kaelen. Mereka terlalu asing, terlalu luas, terlalu penuh dengan warna yang belum pernah dilihatnya di dunia Aethelgard yang monokrom.

Dia melihat langit yang bukan abu-abu, melainkan biru cerah yang menyakitkan mata. Dia melihat hutan-hutan hijau yang rimbun, di mana pohon-pohon raksasa tumbuh dari tanah yang subur, bukan dari tumpukan sampah logam. Dia merasakan sinar matahari yang hangat di kulit yang tidak sakit—sebuah sensasi yang begitu asing hingga terasa seperti luka bakar.

Ini… inikah dunia sebelum Kejatuhan? Pikirannya bertanya-tanya di tengah badai sensorik.

Malphas tidak berbicara dengan kata-kata. Ia berkomunikasi melalui transfer pengalaman langsung. Entitas itu menunjukkan padanya apa yang telah hilang, dan dengan melakukan itu, ia memperbesar rasa sakit dari keberadaan Kaelen saat ini seribu kali lipat.

Kemudian, nada berubah. Gambar-gambar indah itu mulai membusuk. Langit biru terbakar menjadi merah. Hutan-hutan layu dan mati dalam hitungan detik, digantikan oleh mesin-mesin perang yang menjulang tinggi. Dan kemudian datanglah rasa sakit itu—rasa sakit Malphas.

Kaelen tersentak. Matanya yang terpejam semakin erat, alisnya berkerut dalam penderitaan. Dia merasakan kulitnya sendiri seolah dikupas, inci demi inci, tanpa anestesi. Dia merasakan ribuan tahun terperangkap di bawah tanah, sadar namun tak berdaya, menjadi sumber energi bagi kota yang telah melupakannya.

Makhluk itu membagikan penderitaannya. Itu adalah harga dari kovenan.

Tidak. Terlalu banyak. Kaelen mencoba menarik diri. Insting bertahan hidupnya yang terakhir memberontak.

Dia mencoba menggerakkan kepalanya ke belakang, untuk melepaskan diri dari jemari basah yang menahannya. Tapi cengkeraman itu, meski tampak lembut, sekuat catok hidrolik. Serat otot di tangan Malphas menegang, menahan rahang Kaelen di tempatnya. Kuku-kuku—atau ujung tulang—yang tajam sedikit menembus kulit pipi Kaelen, mengirimkan aliran darah segar yang bercampur dengan cairan makhluk itu.

“Kumohon…” Kaelen berhasil mengeluarkan bisikan serak. Air mata, bercampur keringat, merembes dari sudut matanya yang tertutup.

Di kejauhan, di luar fokus pandangannya yang gelap, dia mendengar suara lain. Bukan suara mesin. Suara tembakan paku.

Elara?

Suara langkah kaki berlari. Teriakan frustrasi. Elara telah mengikutinya. Dia mencoba menerobos masuk.

Kehadiran Elara di luar sana, di dunia nyata, menjadi jangkar yang tiba-tiba dan menyakitkan. Itu adalah gangguan dalam penyatuan suci dan mengerikan ini. Malphas merasakannya juga. Cengkeramannya menegang hingga ke titik di mana Kaelen merasa tulang rahangnya akan retak.

Entitas itu marah. Bukan pada Elara, tetapi pada Kaelen karena keraguannya. Kovenan membutuhkan penyerahan total. Tidak boleh ada bagian yang tertinggal di dunia luar.


BAB 4: TRANSUBSTANSIASI

Dunia di sekitar Kaelen mulai bergetar. Partikel bara api di udara berputar lebih cepat, menciptakan pusaran cahaya merah yang memusingkan.

Malphas tidak lagi sekadar menyentuhnya; makhluk itu mulai masuk ke dalamnya.

Melalui luka kecil di pipinya tempat kuku makhluk itu menembus, Kaelen merasakan cairan asing itu meresap ke dalam aliran darahnya. Rasanya seperti disuntik dengan api cair dan es sekaligus. Cairan itu bergerak cepat, menjalar melalui pembuluh darah di wajahnya, turun ke lehernya, menuju jantungnya yang rusak.

Di mana pun cairan itu lewat, rasa sakit akibat penyakit The Wasting lenyap seketika, digantikan oleh sensasi kekuatan yang mentah dan menakutkan. Jaringan parut di paru-parunya seolah meleleh dan terbentuk kembali.

Tapi ini bukan penyembuhan. Ini adalah penulisan ulang.

Kaelen berteriak, tetapi suaranya tidak keluar. Mulutnya terkunci oleh tangan daging yang menekannya. Matanya akhirnya terbuka lebar, pupilnya melebar hingga hanya menyisakan cincin hitam yang menatap lurus ke dalam rongga mata kosong Malphas.

Dalam tatapan itu, dia melihat kebenaran dari Kovenan Merah. Malphas tidak menawarkan keselamatan dari kematian. Ia menawarkan keselamatan dari ketidakberartian.

Jadilah wadahku, suara tanpa kata itu bergema di setiap sel tubuh Kaelen. Dunia di atas telah melupakan rasa sakit. Mereka telah melupakan arti hidup karena mereka telah melupakan arti berdarah. Kita akan mengingatkan mereka.

Di luar, suara Elara semakin dekat. “Kaelen! Menjauhlah darinya!”

Bunyi hiss hidrolik terdengar saat pintu Katedral Tungku dipaksa terbuka. Siluet Elara muncul di ambang pintu yang bermandikan cahaya merah, senapannya terangkat.

Ini adalah momen keputusan. Kaelen bisa menggunakan sisa kekuatannya untuk mencoba melepaskan diri, untuk kembali pada Elara, pada kehidupan yang singkat, menyakitkan, tetapi manusiawi. Atau dia bisa membiarkan api merah ini membakar habis sisa dirinya yang lama.

Dia menatap ke dalam kekosongan di wajah makhluk itu, dan dia melihat cerminan dirinya sendiri—bukan sebagai pemulung yang sekarat, tetapi sebagai sesuatu yang baru. Sesuatu yang abadi dan mengerikan.

Kaelen berhenti melawan. Dia menghembuskan napas terakhirnya sebagai manusia biasa.

“Ya,” bisiknya, bukan pada Elara, tapi pada monster yang memegang wajahnya.

Sebagai respons, Malphas mencondongkan tubuhnya lebih dekat. Serat-serat otot di “wajahnya” bergerak, terbuka, dan menempelkan diri ke wajah Kaelen, menutupi hidung dan mulutnya dalam ciuman yang menyesakkan dan berdarah. Cahaya merah di ruangan itu meledak dalam intensitas yang menyilaukan, menelan jeritan Elara dan dunia luar dalam keheningan crimson.


BAB 5: KELAHIRAN KEMBALI DI ATAS KARAT

Ketika Kaelen membuka matanya lagi, dunia telah berubah warna.

Dia masih berdiri di Katedral Tungku, tapi Malphas telah mundur selangkah. Entitas itu berdiri diam, mengamatinya, tangannya yang basah kini tergantung di sisi tubuhnya.

Kaelen mengangkat tangannya sendiri ke wajahnya. Dia menyentuh pipinya. Kulitnya masih ada, janggutnya masih kasar, tapi di bawahnya… di bawahnya terasa berbeda. Dia menekan lebih keras. Tidak ada rasa sakit. Tidak ada kelelahan yang selalu hadir.

Dia menarik napas dalam-dalam. Udara industri yang beracun masuk ke paru-parunya, tetapi bukannya membuatnya terbatuk, udara itu terasa menyegarkan, seolah-olah tubuhnya sekarang dirancang untuk memproses racun sebagai bahan bakar.

Dia menoleh ke arah pintu masuk. Elara berdiri di sana, senapannya diturunkan, matanya terbelalak ngeri.

“Kael?” panggilnya, suaranya bergetar.

Kaelen melangkah maju, keluar dari lingkaran cahaya merah yang paling intens menuju area yang lebih redup di mana Elara berdiri.

“Aku di sini, El,” katanya. Suaranya sendiri terdengar asing di telinganya—lebih dalam, resonan, dengan sedikit nada ganda yang bergetar di bawah kata-katanya.

Elara mundur selangkah saat Kaelen mendekat. Dia menatap mata Kaelen, dan napasnya tercekat.

Mata Kaelen tidak lagi berwarna cokelat kusam seperti lumpur Aethelgard. Sklera matanya telah berubah menjadi hitam pekat, dan irisnya bersinar dengan warna merah darah yang sama yang memancar dari tungku—cahaya yang sama yang memantul pada tubuh Malphas.

“Apa yang telah kau lakukan?” bisik Elara, air mata mengalir di pipinya yang kotor. Dia melihat luka kecil di pipi Kaelen yang sudah menutup, meninggalkan jaringan parut merah yang berdenyut halus.

Kaelen berhenti. Dia merasakan koneksi baru di dalam pikirannya, sebuah benang merah yang menghubungkannya langsung dengan entitas di belakangnya, dan melalui entitas itu, ke jaringan akar daging yang menyebar jauh di bawah kota. Dia bisa merasakan detak jantung reaktor, aliran limbah di pipa-pipa besar, dan rasa takut dari ribuan jiwa di permukiman di atas.

Dia tidak lagi sekarat. Dia telah menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar dan lebih gelap.

“Aku telah bertahan hidup, Elara,” jawab Kaelen, sebuah senyum tipis dan tanpa humor muncul di bibirnya. “Bukankah itu yang selalu kita inginkan?”

Dia mengulurkan tangannya pada Elara. Itu adalah gestur yang sama yang biasa dia lakukan, tapi kali ini, Elara tersentak mundur seolah ditawari racun.

Kaelen melihat ketakutan di mata wanita yang pernah menjadi satu-satunya temannya. Dia menyadari harganya sekarang. Dia telah mendapatkan keabadian di dunia karat ini, tetapi dia telah kehilangan satu-satunya hal yang membuatnya tetap hangat.

Elara berbalik dan berlari, langkah kakinya bergema menjauh, meninggalkannya sendirian dalam keremangan.

Kaelen tidak mengejarnya. Dia berbalik kembali menghadap Malphas. Sang Martir Merah menunggunya. Mereka memiliki pekerjaan yang harus dilakukan. Dunia di atas terlalu sunyi, terlalu mati rasa. Sudah waktunya untuk mengingatkan mereka tentang warna darah.

Di bawah cahaya tungku yang tak kenal ampun, Kaelen, sang rasul baru dari Kovenan Merah, berdiri tegak. Di pipinya, setetes cairan kental yang bukan miliknya perlahan mengering, berkilau seperti rubi dalam kegelapan.


🎨 CREATE THIS ART (Copy & Paste):

Ingin membuat visualisasi seperti dalam cerita ini? Silakan salin prompt di bawah ini dan gunakan di Gemini (Nano Banana).

A raw, cinematic close-up photograph captured with an 85mm f/1.8 lens, showing a brutal contrast scene bathed in intense blood-red rim lighting. A human man in his 30s (short beard, detailed sweat, pores, closed eyes in a mix of fear and submission, wearing matte black) is in sharp profile on the left. On the right, a horrifying flayed humanoid entity (raw glistening red muscle, exposed veins, skull-like head) gently cups the man’s jaw and cheek with wet, long fleshy fingers, indenting the skin. The background is a bokeh blur of a dark, infernal industrial setting with floating embers. High ISO film grain is visible. The texture of the creature is visceral and wet.

📚 ️Baca Juga Seputar Ruang Imajinasi

Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Ruang Imajinasi Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia ruang imajinasi — semua ada di sana!

✍️ Ditulis oleh: Fadjri Adhi Putra & Fahmi Fahrulrozi
📌 Editor: Redaksi Tren Media

Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.

📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral

Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!

BERITATERKAIT

BERITATERBARU

INSTAGRAMFEED