Merasa lelah karena harus terus mengunggah konten setiap hari di Instagram? CEO Instagram Adam Mosseri menilai pola seperti itu justru tidak sehat jika dipaksakan.
Melalui akun broadcast channel Instagram pribadinya, Mosseri membagikan pesan kepada para kreator agar tidak terjebak pada jadwal posting yang dianggap optimal, tetapi sulit dijalankan dalam jangka panjang.
Menurut Adam Mosseri, jadwal posting terbaik bukan soal seberapa sering Anda mengunggah konten, melainkan seberapa konsisten Anda bisa menjaganya tanpa kelelahan.
“Jadwal posting yang optimal adalah jadwal yang benar-benar dapat Anda pertahankan tanpa kelelahan. Jika posting setiap hari membuat Anda stres, jangan lakukan itu,” tulis Mosseri.
Ia menekankan bahwa memaksakan diri untuk mengunggah konten setiap hari berisiko membuat kreator mengalami stres dan akhirnya berhenti berkarya. Dalam jangka panjang, strategi seperti itu dinilai tidak berkelanjutan.
“Saya lebih suka Anda posting dua kali seminggu selama dua tahun daripada setiap hari selama dua bulan lalu berhenti,” ujar Mosseri.
Selain soal frekuensi, Mosseri juga mendorong kreator untuk menemukan keseimbangan antara jenis konten yang disukai dengan format yang memang efektif di platform tersebut.
“Temukan titik temu antara apa yang Anda sukai dan apa yang berhasil, dan tetaplah di sana,” tulisnya.
Berapa Frekuensi Posting yang Dianggap Ideal?
Berdasarkan rangkuman dari Hopperhq yang dikutip KompasTekno, jumlah unggahan Instagram yang dinilai optimal untuk feed adalah sekitar 1 sampai 2 kali per hari. Rentang ini dianggap cukup aman untuk menjaga jangkauan dan engagement tanpa membuat audiens merasa jenuh.
Untuk format Reels, frekuensi yang dianggap efektif adalah sekitar satu kali per hari atau 3 sampai 5 kali per minggu. Sementara itu, untuk Instagram Stories, idealnya 3 sampai 7 unggahan per hari agar interaksi tetap terjaga tanpa memicu audiens melakukan skip.
Meski demikian, saran Mosseri menegaskan bahwa angka tersebut bukan aturan mutlak. Kreator tetap perlu menyesuaikan jadwal dengan kapasitas, ide, dan energi masing-masing.
Dengan kata lain, konsistensi jangka panjang lebih berharga dibanding intensitas tinggi yang hanya bertahan sebentar. Strategi konten yang realistis dan berkelanjutan menjadi kunci agar kreator tetap produktif tanpa mengalami burnout.
Referensi:
Kompas.com