8 Fakta Kelam Aqua Tofana: Racun Mematikan Abad ke-17 yang Menumbangkan Ratusan Pria
Pada pertengahan abad ke-17 di Italia, sebuah cairan bening tak berbau dan tak berasa menjadi momok paling menakutkan bagi para...
Read more
Pada pertengahan dekade 1980-an, masyarakat Britania Raya diguncang oleh salah satu fenomena urban legend paling mencekam dalam sejarah modern. Sebuah cetakan reproduksi seni massal bernilai murah yang menampilkan wajah seorang anak laki-laki berpakaian lusuh dengan air mata menetes di pipinya—dikenal sebagai lukisan The Crying Boy—dituduh menjadi biang kerok di balik puluhan insiden kebakaran rumah yang menghancurkan pemukiman warga di seluruh penjuru Inggris.
Sensasi mistis ini merebak luas setelah surat kabar koran harian terkenal Inggris, The Sun, memuat berita utama berjudul “Blazing Curse of the Crying Boy” pada September 1985. Yang membuat publik merinding bukan sekadar kebakaran yang terjadi, melainkan fakta janggal di mana di tengah puing-puing bangunan yang hangus terbakar hingga menjadi abu, cetakan lukisan tersebut selalu ditemukan utuh tanpa cacat sedikit pun.
Bagaimana sebuah karya seni komersial buatan pelukis Italia bisa memicu histeria massal, investigasi kepolisian, hingga aksi pembakaran ribuan cetakan lukisan di pinggir Sungai Thames? Berikut adalah pembedahan fakta sejarah, kronologi insiden, hingga penjelasan ilmiah di balik fenomena lukisan The Crying Boy.
+---------------------------------------------------------------------------------+
| KRONOLOGI FENOMENA KUTUKAN LUKISAN THE CRYING BOY |
+---------------------------------------------------------------------------------+
|
+-----------------------------------+-----------------------------------+
| | |
[1950-an - 1970-an] [4 September 1985] [31 Oktober 1985]
- Diproduksi massal oleh - Liputan utama The Sun - Aksi pembakaran masal
Bruno Amadio (G. Bragolin) tentang kebakaran rumah 2.500+ cetakan lukisan
- Terjual lebih dari 50.000 Ron & May Hall di Rotherham oleh The Sun di Reading
kopi di pasar Inggris - Lukisan ditemukan utuh - Histeria publik mereda
Karya seni yang fenomenal ini berawal pada dekade 1950-an di Italia. Lukisan ini dibuat oleh seorang pelukis akademis bernama Bruno Amadio, yang bekerja menggunakan nama samaran Giovanni Bragolin (atau terkadang Franchot Seville). Amadio membuat seri potret anak-anak yatim piatu berwajah sedih dan berair mata untuk dijual sebagai cenderamata kepada para wisatawan di Venesia pasca-Perang Dunia II.
Pada era 1960-an hingga 1970-an, hasil karya Amadio diproduksi secara massal dalam bentuk cetakan gambar murah (mass-produced prints). Di Inggris saja, toko-toko kelontong dan departemen store populer seperti Woolworths berhasil menjual lebih dari 50.000 eksemplar cetakan tersebut. Lukisan anak laki-laki berwajah sendu ini sangat digemari oleh pasangan muda dan keluarga kelas pekerja di Inggris bagian utara karena dianggap memiliki daya tarik emosional yang menyentuh hati.
Namun, kepopuleran tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika laporan-laporan insiden kebakaran lokal mulai mengaitkan keberadaan cetakan lukisan tersebut dengan musibah yang menimpa para pemiliknya.

Artikel The Sun yang menampilkan The Crying Boy diterbitkan pada 4 September 1985. Sumber: Famagusta News
Pemicu utama meletusnya histeria nasional terkait lukisan The Crying Boy terjadi pada tanggal 4 September 1985 di kota Rotherham, South Yorkshire. Rumah pasangan suami istri Ron dan May Hall hangus dilalap sihir api setelah panci penggorengan (chip pan) di dapur mengalami overheating dan meledak.
Kebakaran dahsyat tersebut menghancurkan hampir seluruh perabotan dan struktur bagian bawah rumah keluarga Hall. Namun, saat tim pemadam kebakaran melakukan penyisiran di antara puing-puing kayu yang hitam legam, mereka menemukan cetakan The Crying Boy masih tergantung rapi di dinding ruang tamu—sama sekali tidak tersentuh api maupun kerusakan asap. Kejadian aneh ini memicu keluarga Hall meyakini bahwa lukisan itulah yang membawa kutukan ke rumah mereka.
Laporan media semakin liar ketika saudara laki-laki Ron Hall, yang bekerja sebagai petugas pemadam kebakaran, serta seorang perwira pemadam kebakaran bernama Alan Wilkinson membeberkan catatan pangkalan mereka. Wilkinson mengonfirmasi bahwa sejak tahun 1973, ia telah mencatat setidaknya 50 kasus kebakaran rumah di mana cetakan lukisan anak menangis tersebut selalu ditemukan selamat di tengah kobaran api.
Meskipun otoritas pemadam kebakaran secara resmi menyatakan bahwa kebakaran disebabkan oleh kelalaian manusia (seperti puntung rokok, korsleting listrik, atau panci minyak), fakta keberadaan lukisan yang tak terapkan api tersebut tetap membuat para petugas lapangan merasa janggal dan terheran-heran.
Editor harian The Sun saat itu, Kelvin MacKenzie, melihat potensi berita ini sebagai sensasi besar (great splash). Media harian tersebut terus memuat berita bersambung selama enam minggu berturut-turut. Laporan demi laporan mengalir dari para pembaca yang mengaku rumahnya terbakar, mengalami kecelakaan organ, hingga kehilangan anggota keluarga setelah membeli atau menggantung lukisan tersebut.
Beberapa klaim misterius pembaca The Sun meliputi:
Seorang wanita di Kilburn mengklaim lukisannya terlihat berayun-ayun sendiri di dinding sebelum rumahnya terbakar.
Seorang anak laki-laki berusia 11 tahun mengalami cedera organ vital saat memegang bingkai lukisan tersebut.
Usaha piza dan restoran yang memajang lukisan tersebut luluh lantak terbakar hingga rata dengan tanah.
Upaya beberapa pemilik untuk membakar sendiri lukisan tersebut di perapian rumah gagal karena kertas lukisan menolak terbakar.
+--------------------------------------------------------------------------+
| REKAPITULASI KLAIM POPULER MASYARAKAT INGGRIS (1985) |
+--------------------------------------------------------------------------+
| Objek / Kejadian | Detail Klaim Histeria Publik |
+-------------------+------------------------------------------------------+
| Rumah Tipe COTTAGE| Terbakar habis; cetakan lukisan tetap utuh sempurna |
| Aksi Pembakaran | Pemilik mencoba membakar di perapian; kertas tak lalap|
| Restoran & Piza | Bangunan komersial terbakar rata dengan tanah |
| Fenomena Fisik | Lukisan diklaim bergerak/berayun sendiri di dinding |
+-------------------+------------------------------------------------------+
Seiring berkembangnya urban legend, cerita rakyat baru berembus untuk menjelaskan asal-usul kutukan tersebut. Salah satu mitos yang paling populer menyebutkan bahwa anak laki-laki yang menjadi model lukisan Bruno Amadio adalah seorang anak yatim piatu bernama Don Bonillo atau dinamai “Diablo” (Iblis).
Menurut legenda tersebut, seorang pastor lokal melarang Amadio berhubungan dengan anak itu karena setiap tempat yang dikunjungi sang anak selalu berakhir dengan kebakaran misterius. Amadio mengabaikan peringatan tersebut dan mengadopsi sang anak. Tak lama kemudian, studio lukis Amadio terbakar habis hingga membuatnya bangkrut. Anak itu melarikan diri dan dikabarkan tewas dalam kecelakaan mobil yang meledak pada awal dekade 1970-an. Namun, jurnalis investigasi David Clarke menegaskan bahwa kisah latar belakang Don Bonillo adalah fiksi murni yang baru dimunculkan dalam buku cerita misteri karya Tom Slemen pada tahun 2000.
Untuk menenangkan histeria publik yang meluas, The Sun menyerukan kampanye pemusnahan massal. Editor Kelvin MacKenzie meminta para pembaca untuk mengirimkan cetakan The Crying Boy ke kantor redaksi mereka untuk dimusnahkan secara resmi.
Respons publik sangat luar biasa. Ruang redaksi The Sun di Bouverie Street kebanjiran lebih dari 2.500 cetakan lukisan yang menumpuk setinggi 3,6 meter hingga memenuhi ruang wawancara. Pada malam Halloween, 31 Oktober 1985, tim redaksi didampingi model Page 3 Jane Moore memboyong ribuan lukisan tersebut ke lahan kosong dekat Reading, douse bahan bakar minyak, dan membakarnya dalam kobaran api unggun raksasa di bawah pengawasan ketat petugas pemadam kebakaran.

Misteri mengapa lukisan The Crying Boy dapat bertahan di tengah kebakaran akhirnya terungkap secara ilmiah pada tahun 2010. Penulis dan komedian Inggris Steve Punt menginvestigasi fenomena ini dalam acara BBC Radio 4 bertajuk Punt PI.
Punt membawa sampel lukisan ke laboratorium Building Research Establishment (BRE) untuk diuji secara fisis. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan fakta matematis dan sains yang jelas:
Pernis Tahan Api: Cetakan lukisan yang diproduksi massal tersebut dilapisi oleh pernis komersial (varnish) yang mengandung bahan kimia pemadam api / tahan api (fire retardant).
Mekanisme Jatuh Telungkup: Tali gantungan di belakang bingkai kayu lukisan adalah bagian yang paling cepat putus terkena panas atau api. Begitu tali putus, lukisan akan jatuh dari dinding dan mendarat dengan posisi gambar menghadap ke lantai (face down). Posisi ini melindungi permukaan gambar dari paparan langsung oksigen dan kobaran api, sehingga hanya bagian belakang bingkai yang mengalami pengarangan ringan.
Meskipun publik mengenal nama G. Bragolin dari tanda tangan di sudut kanan atas lukisan, sosio-biografi sang seniman sendiri penuh dengan tabir misteri. Bruno Amadio lahir di Venesia pada tahun 1911 dan wafat pada tahun 1981.
Selama hidupnya, Amadio melukis setidaknya 65 variasi potret anak-anak menangis (baik anak laki-laki maupun perempuan). Karyanya menjadi simbol tren seni popular kitsch / sad-eyed children yang sangat digemari pada era pertengahan abad ke-20, sejajar dengan karya populer Margaret Keane di Amerika Serikat.
| Parameter Data | Detail Informasi & Statistik Sejarah |
| Nama Karya Seni | The Crying Boy (Seri Anak Menangis) |
| Pelukis Asli | Bruno Amadio (Nama Pen: Giovanni Bragolin) |
| Tahun Produksi Awal | Era 1950-an (Diproduksi massal 1960-1970-an) |
| Total Estimasi Penjualan | > 50.000 Kopi di Inggris |
| Awal Puncak Histeria | 4 September 1985 (Laporan Kebakaran Rumah Rotherham) |
| Penyebab Ilmiah Ketahanan | Pernis Fire Retardant & Mekanisme Jatuh Face-Down |
| Pemusnahan Massal | 31 Oktober 1985 (2.500+ Kopi Dibakar di Reading) |

Bruno Amadio dan lukisan dari seri The Crying Boy. Sumber: Culturacolectiva.com
Kisah kutukan lukisan anak menangis ini menjadi contoh klasik bagaimana media massa, rumor lokal, dan bias konfirmasi (confirmation bias) dapat mengolah insiden biasa menjadi urban legend berskala internasional. Sebelum liputan koran harian, masyarakat yang mengalami kebakaran tidak pernah mengaitkan musibah mereka dengan dekorasi dinding rumah. Namun ketika media memberikan bingkai narasi misteri, setiap insiden kebakaran di mana lukisan tersebut selamat langsung dianggap sebagai bukti kesaktian kutukan.
Hingga saat ini, beberapa cetakan asli The Crying Boy yang selamat dari aksi pemusnahan tahun 1985 masih diburu oleh para kolektor barang antik, peneliti fenomena supranatural, dan museum barang unik di seluruh dunia sebagai kenang-kenangan atas histeria massal paling ikonik dalam sejarah Inggris modern.
The Curse of the Crying Boy: Britain’s Haunted Painting – The Lineup
Tears for Fears: The Curse of the Crying Boy – Revenant Journal
A Painting of a Crying Boy Was Blamed for a Series of Fires in the ’80s – Atlas Obscura
Temukan berbagai artikel menarik dan inspiratif di halaman 👉 Kumpulan Artikel dan Berita Misteri Terpopuler 2026 . Dari berita terbaru, tips, hingga kisah menarik seputar dunia misteri — semua ada di sana!
Ikuti Saluran Resmi Trenmedia di WhatsApp!
Dapatkan berita terkini, tren viral, serta tips inspiratif langsung dari redaksi.
📱 Saluran Trenmedia 🍳 Saluran Resep Masakan Viral
Klik dan bergabung sekarang – update terbaru langsung masuk ke WhatsApp kamu!
Pada pertengahan abad ke-17 di Italia, sebuah cairan bening tak berbau dan tak berasa menjadi momok paling menakutkan bagi para...
Pernahkah Anda membayangkan tinggal di tempat di mana udara dingin bisa membekukan air mata Anda hanya dalam hitungan detik? Selamat...